Friday, July 31, 2009

Masa Depan Islam Indonesia

Salah satu surat kabar Nasional (9/10) memuat tulisan seorang Doktor dari National University of Malaysia yang berbicara tentang adanya semacam kekhawatiran (pihak asing-red) bahwa peradaban Islam di prediksikan akan kembali berjaya seperti masa Dinasti Abbasiyah (750 H-1258 M). Kiblatnya tidak lagi di kawasan Timur Tengah, tetapi Benua Asia dengan Indonesia sebagai titik sentralnya. Tentu saja banyak pihak yang sekarang merasa peradabannya (the most civilized nations) resah jika Islam di Indonesia suatu saat menggeser kejayaan mereka. Prediksi tersebut patut di cermati secara subtansial, mengingat Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.
“Lima Bom” Untuk Islam Indonesia
Ketua Majlis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Drs H Thoha Abdurrahman sebagaimana di wawancarai dalam sebuah harian terbitan Jawa (4/10) dalam menyikapi fenomena terkini umat Islam terkait dengan adanya aliran sesat Al Qiyadah Islamiyah menegaskan bahwa ada usaha untuk menghancurkan Islam Indonesia dengan “Lima Bom”. Yakni, bom politik, uang ekonomi, social budaya, kemasyarakatan, hukum dan agama. Targetnya adalah Islam Indonesia kiamat pada tahun 2008-2013.
Masa depan politik Islam Indonesia masih dalam pertanyaan besar. Apalagi-meminjam istilah Donny Gahral Ardian (2007)- bahwa kita sedang menyaksikan pernikahan ideologis antara Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P) dan partai Golongan Karya. Faksi merah-putih bertemu PDI-P. partai yang selama ini di kenal satu suara soal finalitas negara kesatuan, Pancasila dan kebhinnekaan. Semua tahu kepada siapa sinyal ideologis ini di sampaikan. Keduanya khawatir atas penguatan politik agama di berbagai belahan republic. Targetnya jelas dan mulia:pluralisme harus di selamatkan. Politik baik makro atau mikro harus di isi kader dengan basis ideologis nonsectarian. Fakta yang jelas juga terlihat ketika kedua partai politik tersebutlah yang paling serius memperjuangkan asas tunggal.
Terkait dengan “bom ekonomi”, buku karya John Perkins berjudul Cofession of an Economic Hit Man yang di bahas sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta dua tahun yang lalu memperkuat dugaan tersebut. Di sebutkan, pengakuan Think-Tank AS menunjukkan bukti adanya konpirasi global yang di lakukan Barat (AS-red) terhadap umat Islam Indonesia. Perkins dan sejumlah temannya memiliki sebutan sebagai economic hit man atau pembunuh ekonomi. Mereka bertugas di bawah Pengawasan Dewan Keamanan Nasional atau National Security Agency (NSA), salah satu lembaga keamanan dan intelijen terkemuka di AS. Imperium itu dibangun bukan melalui persaingan yang sehat dan jujur, tapi dengan cara-cara yang kotor. Mereka melakukannya dengan manipulasi ekonomi, kecurangan, penipuan, seks, merayu orang untuk mengikuti cara hidup orang Amerika. Parahnya lagi, saat penulis menyimak pemaparan pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Revrisond Baswir pada saat Temu BEM Seluruh Indonesia di Yogyakarta 1-3 November baru-baru ini, disebutkan bahwa rata-rata fakultas ekonomi yang ada di negeri ini adalah pusat-pusat pengkajian ekonomi liberal, sekaligus antek-antek kolonial dan neoliberal. Lihat saja, berapa ilmu ekonomi yang mengajarkan ekonomi kerakyatan, apalagi ekonomi Islam. Semuanya jelas bagian dari grand design konspirasi global. Fakta yang menyedihkan telah terjadi ketika di awal era Suharto memerintah, negeri ini telah di “perjualbelikan” dengan pihak asing, pelaku utamanya adakah mereka-mereka yang tergabung dalam Mafia Berkeley.
Dalam aspek hukum, ada kata-kata yang menjadi rujukan ketika apa yang pernah di tuliskan seorang Wartawan Senior di Singgalang beberapa waktu yang lalu, bahwa ada asumsi konpirasi asing dalam sebuah penegakan hukum terkait kasus korupsi. Di karenakan para wakil rakyat tersebut-sebagaimana saya dengar dari salah seorang mereka- adalah buya yang begitu mencintai penerapan Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (penegakan syariat Islam-red). Kita berharap tidaklah demikian. Karena, ini adalah gaya lain Mafia Berkeley.
Hal paling subtansial adalah ketika hari ini kita melihat banyaknya pemikiran nyeleneh dalam kehidupan beragama. Lihat kasus mutakhir tentang adanya Nabi baru. Juga, secara nasional bangsa ini semakin di teror dengan berbagai pemikiran liberal yang di dapat dari dosen-dosen lulusan Barat. Bukan sikap apatis yang di kedepankan, melainkan saya teringat kembali dengan tulisan Adian Husaini (2007) tentang peta pemikiran Islam dan trend perkembangan paham liberalisme, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam. Dari laporan sejumlah mahasiswa yang mengambil kuliah S-2 studi Islam di berbagai perguruan tinggi Islam di daerahnya, rata-rata menceritakan tentang dosen yang mengajarkan paham relativisme. Dalam satu forum, ada seorang dosen di Malang yang secara terbuka menyampaikan bahwa Islam adalah banyak dan tidak satu.Dia berkata di depan forum: ”Islam yang mana yang Anda kembangkan? Tafsir yang mana yang bisa dijadikan rujukan? Bukankah para mufasir itu juga berbeda-beda pendapatnya?” Dalam acara di Solo, pertanyaan serupa juga diajukan seorang dosen sebuah Perguruan Tinggi Islam?. Refleksi Adian Husaini bahwa pemahaman seperti itu adalah keliru, dan sudah tercemar virus relativisme. Dari penyebaran virus relativisme di berbagai perguruan Tinggi Islam ini, sebenarnya bisa dilacak dari mana sumber dan distributornya. Relativisme adalah doktrin bahwa ilmu, kebenaran, dan moralitas senantiasa terkait dengan budaya, sosial, dan konteks historis, dan tidak bersifat absolut. (the doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute). Dengan perspektif pemahaman seperti itulah maka para pengusung paham ini menerapkan pola pikir tersebut terhadap Al-Quran dan tafsir Al-Quran. Mereka biasa mengatakan, bahwa Al-Quran adalah produk budaya; bahwa tafsir Al-Quran adalah relatif karena merupakan produk akal manusia yang relatif. Ujung-ujungnya mereka mengatakan, bahwa manusia tidak tahu kebenaran, bahwa yang tahu kebenaran hanya Allah. Karena itu, kata mereka, tidak boleh mengklaim agamanya atau pendapatnya sendiri yang benar dan menyalahkan pendapat orang lain. Lebih lanjut lagi, kata mereka, hukum-hukum Islam pun bersifat relatif dan terkait dengan budaya Arab.
Zakat sebagai Modal Kebangkitan
Masa depan Islam memang ada di tangan kita. Kitalah yang menentukan apakah Islam akan kembali jaya. Maka, penyikapan utama adalah tentang persoalan klasik umat Islam. Kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam prediksi PBB soal pertumbuhan jumlah penduduk di seluruh dunia pada tahun 2010, angka kemiskinan tingkat dunia akan mencapai 60 persen. Semua lembaga Internasional terus berupaya untuk menghilangkan angka kemiskinan ini, dan mereka tidak mampu melakukannya. Ini berarti harus ada solusi konkret umat Islam untuk mengatasi problema tersebut.
Konfrensi Zakat Asia Tenggara II yang menghimpun para pengelola, praktisi, dan tokoh baru saja berakhir, akhirnya merekomendasikan tujuh butir rekomendasi. Dari tujuh butir rekomendasi itu, menurut Sunaryo Adhiatmoko ada tiga butir yang istimewa untuk Indonesia sebagai tuan rumah. Pertama, butir ke empat yang memaparkan bahwa perlu di kaji dan di pertimbangkan agar peran organ pemerintah yang mengatur masalah zakat dapat di tingkatkan kapasitasnya, baik dalam tingkatan Kementrian atau minimal Direktoral Jendral. Kedua, butir ke lima bahwa meminta kepada pemerintah, DPR, Organisasi Zakat dan masyarakat luas mengusahakan dan memperjuangkan agar UU yang berkaitan dengan zakat dapat diamandemen/direvisi sehingga zakat berperan secara maksimal sebagai smuber dana pembagunan umat. Ketiga, butir ke enam bahwa meminta kepada Pemerintah dan DPR agar zakat dapat/boleh mengurangi pajak/cukai. Hal ini jelas-jelas merupakan secercah harapan akan bangkitnya kesejahteraan di bidang ekonomi bila nantinya terlahir harapan tersebut. Hal ini memperkuat pernyataan Prof. M. Ridwan Lubis, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah (2007) bahwa dalam mewujudkan peradaban Islam itu setidaknya dibutuhkan sinergi tiga komponen yaitu kesejahteraan di bidang ekonomi, stabilitas di dalam kehidupan sosial serta majunya perkembangan keilmuan. Ketiga hal ini memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam. Kesejahteraan di bidang ekonomi terpancar dari rukun Islam yang menekankan zakat sebagai salah satu pilar Islam. Pilar ini mengacu kepada lorong khusus kehidupan ekonomi yang ditawarkan Islam yaitu pengakuan adanya hak milik individu pada setiap harta yang didapatnya dan juga mendorong setiap orang untuk bekerja sebanyak-banyaknya karena pekerjaan itu bernilai ibadah namun pada saat yang sama harus menyadari bahwa kepemilikan itu tidak sempurna (milk al naqish) dan disamping itu juga partisipasi untuk membagi harta kepada orang miskin bukan suatu belas kasihan (charity) akan tetapi suatu kewajiban karena dalam setiap milik individu itu melekat pula milik orang lain.
Kepercayaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Adalah hal yang sangat stategis ketika negara-negara Muslim memberikan kepercayaan dengan sangat mengharapkan Indonesia bisa mewakili mereka untuk menyuarakan pentingnya penggalian sumber zakat di tingkat dunia, untuk meringankan penderitaan orang-orang miskin. Karena zakat di berikan kepada orang miskin tanpa syarat sedikitpun. Ia, mengandung keberkahan, ketulusan dan keikhlasan. Jika kekokohan itu ada di awali iman yang kuat. Mustahil masa depan Islam akan terus seperti sekarang.

Memahami Bencana

Sejarah panjang bencana di Indonesia boleh dikatakan sudah mendarah daging. Sejalan dengan perkembangan dunia yang semakin tua. Tak sedikit kerugian yang diakibatkan oleh bencana tersebut. Bila kita lihat sejarah bencana di negeri ini. Menyisakan pengalaman yang tak terlupakan bagi kita yang berpikir. Letusan gunung, gempa, gempa dan tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran dan terakhir bencana lumpur panas seakan menyempurnakan deretan bencana di negeri kepulauan ini. Rumah-rumah hancur, sekolah, perkantoran, sebagian tempat ibadah dan bangunan industri lainnya.
Bencana mutakhir yang melanda negeri ini rata-rata didominasi oleh gempa dan tsunami. Analisa penyebabnya, aktivitas pergerakan lempeng-lempeng bumi di dasar laut yang menyebabkan patahan-patahan. Menurut data yang ada, Indonesia tempat kita hidup sekarang ini berada pada pertemuan tiga lempeng besar dunia yang sangat aktif. Indonesia sendiri terbentuk karena pergerakan besar lempeng-lempeng tersebut. Lempeng Indo-Ausdralia yang mendesak ke timur laut dan utara, Lempeng Eurasia yang relatif “diam’ tetapi bergerak ke arah tenggara, dan Lempeng Pasifik yang mendesak ke arah barat daya dan barat laut. Aktivitas tiga lempeng tersebut aktif dan saling mendesak atau bertumbukan membuat Indonesia yang duduk di atas Pacific Ring of Fire sudah ditakdirkan senantiasa rawan bencana, seperti letusan gunung berapi, gempa dan tsunami1.
Sedangkan teori terbaru mengapa lempeng bergerak-sehingga mengakibatkan gempa- adalah karena jilatan magma panas yang bergerak lambat di bawah kerak bumi. Jilatan magma itu membuat permukaan bumi bergerak. Selain mengakibatkan gempa, pergerakan lempeng itu jugalah yang membentuk gunung berapi2.


Secara garis besar, menurut hemat saya ada dua masa pembahagian bencana besar yang melanda Indonesia:
1. Sejak tahun 1500 -1900 M
Tercatat, bencana alam terbesar pertama kali yang masuk dalam dokumentasi sejarah adalah bencana letusan gunung dan tsunami. Terjadi pada tahun 1586, Gunung Kelud di Jawa Timur meletus dengan dasyat. Hingga menelan korban 10.000 tewas. Pada tanggal 10 Desember tahun 1771 gunung Awu di pulau Sangihe Sulawesi Utara meletus dengan korban 3.000 jiwa dan setahun kemudian, yakni pada tahun 1772 tepatnya 11 Agustus gunung Papandayan di Jawa Barat meletus juga, tercatat menelan korban sebanyak 2. 957 jiwa. Tahun 1815, tepatnya pada tanggal 5 April bencana gunung meletus kembali menimpa bangsa ini. Bencana yang belum tertandingi kehebatan jumlah korbannya dalam sejarah letusan gunung merapi. Gunung Tambora meletus, hingga menelan korban 92.000 jiwa. Kabupaten Bima-Kabupaten Dompu yang terletak di Nusa Tenggara Barat itu sungguh menderita akibat amukan “kemarahan” gunung Tambora. Sepuluh ribu orang tewas karena letusan dan delapan puluh dua ribu korban karena bencana kelaparan dan penyakit yang ditimbulkan letusan pascabencana.
Setelah dua ratus tahun tidur, gunung Krakatau yang ketinggiannya mencapai 200 meter dan terletak di selat Sunda antara laut Jawa dan Sumatra ternyata meletus lagi. Titik klimaks letusan terjadi pada tanggal 26 Agustus tahun 1883. Kendati pulau Krakatau itu sendiri tidak berpenghuni, korban letusannya mencapai kebih dari 36.000 jiwa. Gelombang raksasa inimenghancurkan 165 pemukiman di pantai Jawa dan Sumatra. Sebuah perahu milik angkatan Belanda sampai terlempar sejauh tiga kilometer ke daratan. Abu letusannya di atmosfir menyebar ke seluruh dunia dan mengakibatkan alam menjadi remag-remang secara spektakuler. Dua setengah hari kegelapan total menyelimuti wilayah dengan radius delapan puluh kilometer.3 Tahun 1889, tepatnya di Laut Banda (Ambon) mengalami kekuatana gempa 7,8 SR dengan ketinggian gelombang 60 meter. Peristiwa itu akhirnya menelan korban 3.820 orang.

2. Sejak tahun1919-2006
Di Tahun 1919 gunung Kelud kembali meletus hingga menelan korban 5.160 jiwa dan gunung Merapi di Jawa Tengah meletus pada tahun 1930 yang menelan nyawa sebanyak 1.369 jiwa. Lima belas tahun sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan Soekarno-Hatta. Memang, bencana tak mengenal waktu dan tempat. Tak mengenal berapa banyak sudah “rekor” yang sudah tertorehkan. Dua tahun menjelang pemberontakan G-30/S PKI, bencana gunung meletus kembali. Gunung Agung di Bali menambah deretan sejarah bencana gunung meletus, 17 maret 1963 gunung tersebut menelan korban 1.148 jiwa. Seolah ia mengisyaratkan, manusia di negeri ini harus berbenah diri dan menjaga persatuan dan kesatuan. Siasat politik busuk harus di tinggalkan. Tahun 1992 di Flores, gempa berkekuatan 7,5 SR dengan tinggi gelombang laut 26 meter mengakibatkan 1.952 orang tewas dan sebanyak 2.126 luka-luka.4
Tsunami Aceh 2004
Lima tahun pascareformasi yang ditandai dengan lengsernya Suharto. Ditengah kesibukan para elit negeri ini berebut kekuasaan, rakyat yang masih trauma dengan kekejaman krisis moneter yang mencekik leher. Saat telah sekian lama Aceh berbicara dalam konteks senjata, perang saudara serta keinginan sebagian rakyat Aceh untuk berdiri sendiri layaknya sebuah negara. Sebuah hentakan besar dari ujung Sumatera menghentikan kegiatan ekonomi masyarakat untuk berhenti sejenak, menghentikan pertikaian yang ada. Ada apa gerangan ? Para elit negeri seketika itu juga mengalihkan pandangan ke Bumi Serambi Mekkah dan Nias di Sumatra Utara.
Tak disangka, gempa berkekuatan 6,9 SR menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (9 skala Richter menurut US Geology Service) yang berpusat di Samudera Hindia berhasil “membumi hanguskan” Aceh dan sebagian pantai Nias, Sumatera Utara. “Demam berdarah bumi” yang disusul tsunami tersebut membuat masyarakat berhamburan. Kepanikan terjadi seketika itu, tak tahu mau berbuat apa. Ada yang berusaha lari sejauh mungkin, sebagian naik ke loteng rumah, dan sebagian lainnya masuk ke Masjid. Masyarakat yang tidak mampu melarikan diri akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam gulungan ombak raksasa itu. Tercatat, tsunami menelan korban hingga sekitar 310.000 jiwa, perekonomian bangkrut, kesehatan masyarakat terancam. Pada 26 Desember 2004 tersebut, gempa yang disusul tsunami merambah ke berbagai negara Asia. India, Sri Lanka, Tahiland, Somalia, Myanmar dan bebagai negara lainnya.
Kerugian yang dialami sangatlah besar. Arus transportasi putus total, lahan pertanian habis, apalagi sitem komunikasi terhambat. Dengan berbagai usaha pihak media elektronik maupun media cetak berusaha memperbaiki sistem jaringan untuk meliput Aceh yang berduka agar kita semua tahu apa yang sedang terjadi. Sekian jam kemudian, Aceh menjadi sorotan masyarakat Indonesia hingga dunia Internasional. Anak kehilangan ayah, ibu kehilangan puteri. Ureung Leu Aceh menderita, Indonesia menangis, dan Dunia berduka.
Proses evakuasi dari Tim SARS maupun PMI dan elemen lain yang membantu, harus kewalahan dalam mengarungi medan yang sudah tak seperti bumi lagi. Korban yang hilang harus ditemukan sebanyak mungkin. Hingga akhirnya, sebagaimana kita ketahui adanya korban yang ditemukan di laut, tertutup lumpur dan tertimpa bangunan. Belum lagi, akibat kelambanan proses pemakaman berbagai penyakit bermunculan.
Tak cuma itu, usaha membantu para korban berdatangan dari berbagai penjuru nusantara. Pemerintah, TNI-Polri, Lembaga Swadaya Masyarakat, Sukarelawan, Organisasi massa, tak ketinggalan partai politik turut meramaikan pemulihan Aceh yang tengah berduka. Begitu juga dari media massa, elektronik maupun media cetak berusaha membantu korban dengan peran bukan hanya sebagai pemberitaan, penghubung antara keluarga yang terpisah, namun juga sebagai fasilitator dana/ sumbangan untuk rakyat Aceh yang disebut dengan Dompet/ Dana Kemanusiaan. Seperti, RCTI Peduli Aceh, Dana Kemanusiaan “Kompas”, Dompet Republika.
Tak ketinggalan, Dunia Internasional pun turun tangan dalam meringankan penderitaan bencana. Malaysia, Jerman dan Amerika Serikat dengan cepat mengirimkan bantuan makanan, pakaian,air bersih dan obat-obatan. OKI dengan bantuan 118 juta dolar, Malaysia, Jepang, Asian Development Bank (ADB), Jerman serta sejumlah negeri Timur Tengah. Amerika yang tak mau ketinggalan, dimana menurut sebagian pengamat suatu kesempatan besar untuk menyebarkan politik luar negerinya. Hingga, menlu AS –saat- itu Collin Powell dan mantan Presiden AS Bill Clinton berkunjung ke Aceh. Kita juga semua tahu, delapan kapal perang AS dikerahkan yang diikuti kapal Induk USS Abraham lincon lengkap dengan prajurit negeri Paman Sam tersebut.
Namun, kekecewaan timbul tatkala penanganan bencana yang tidak efisien dak efektif. Kenyataan dilapangan membuat hati ragu akan kelancaran bantuan yang datang dari mereka yang membantu. Kenapa tidak, sesuai dengan realita, bantuan yang datang kebanyakan menumpuk di Bandara Iskandar Muda, dan Bandara Polonia di Medan. Kelambanan proses penyaluran bantuan di akibatkan sistem pemerataan yang tidak valid. Hingga timbul semacam problem baru.
Bantuan asing (AS) yang dikucurkan ke Bumi Serambi Mekkah itu mulanya membuat berbagai kalangan bersyukur. Namun, sesuai dengan watak kaum Imperialis. Dilaporkan bahwa ada usaha pemurtadan atas anak-anak Aceh yang dikemas dalam bantuan kemanusiaan. Agenda misionaris berjalan.
Begitu juga dengan ketidaksiapan pemerintah dan masyarakat dalam penanganan bencana. Pengalaman yang telah dilalui belum juga memberikan rasa kesadaran akan pentingnya bagaimana menghadapi bencana. Tidak terorganisasinya penanganan bencana, sumber daya manusia yang kurang, dana yang tidak diatur undang-undang mengakibatkan berbagai masalah baru bermunculan. Penyakit menular dan kelaparan menyelimuti sisa-sisa nafas Ureung Leu Aceh.
Gempa Yogyakarta
Ratapan, tangisan dan kepedihan
Berangsur hilang
Hidup yang kemaren muram
Kini bersinar kembali
Cinta dan Empati
Jadi sebuah keajaiban yang membuat kami
Bertahan bangkit, bergotong- royong, dan terus berkarya

Teriring ungkapan rasa
TERIMA KASIH
Bagi semua pihak yang telah
Membantu dengan tulus ikhlas
Melewati masa tanggap darurat ini
Atas nama Pemerintah dan Masyarakat Yogyakarta
Hamengku Buwono X5
Sebelum tulisan itu dirilis media massa, kita semua mengetahui bahwa pada tanggal 27 Mei 2006 gempa tektonik berskala di atas 6,2 skala Richter menggoyang Yogyakarta. Pada hari kedua pasca gempa, sejumlah korban yang selamat dari bencana gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah belum mendapatkan tenda untuk berteduh dan makanan sehingga harus mengemis di pinggir jalan. “Ia (mengemis) terpaksa, karena bantuan pemerintah tidak datang-datang. Ini untuk makan dan membeli perlengkapan sehari-hari” ujar Kusmarno, warga Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kemarin6. Itulah sedikit dari sekian banyak penderitaan korban gempa Yogya dan Jawa Tengah.
Tak kurang dari enam ribu jiwa meninggal tertimpa reruntuhan akibat goncangan gempa selama 57 detik tersebut7. Ribuan luka-luka, dan lebih dari 7.000 rumah rusak sebagian bahkan rata dengan tanah. Sejumlah korban pun masih dibawah rumah-rumah yang hancur. Akhirnya, korban gempa pun banyak yang tidak terurus. Pemerintah dalam hal ini terus berupaya membantu korban gempa.
Proses evakuasi korban dilapangan pada hari kedua terus berlanjut. Pemerintah setempat meminta warga agar mengungsi untuk tenang. Akibat kurangnya mini sarana mandi, cuci, dan kakus di tempat-tempat pengungsian menjadikan warga harus antrian dan penyakit diare tak dapat dihindari. Banyak kecamatan yang terjangkit diare akibat minimnya MCK. Disisi lain, koordinasi di lapangan menunjukkan kelemahan yang fatal. Dari 17 titik pengungsian yang memiliki dapur umum hanya tujuh buah. Ditambah, adanya pihak yang memberi bantuan secara langsung yang mengakibatkan tumpang-tindih penanganan bencana. Yang pada akhirnya, masih banyak keluarga korban yang belum mendapatkan bantuan.
Lebih parah lagi, ditengah bencana yang menimpa masih ada juga manusia yang berhati iblis. Bukannya mereka membantu korban, malahan menusuk lagi dari belakang. Praktik ini dilakukan dengan menjarah barang-barang korban. Mencuri peralatan rumah tangga yang bernilai. Kejam memang anak bangsa ini. Akibatnya, luka korban gempa bertambah parah. Terakhir, Pemerintah pusat di kabarkan akan memberikan bantuan tunai secara langsung. Bantuan tunai di berikan dengan tujuan menbantu korban meringankan penderitaannya.
Gempa dan Tsunami Selatan Jawa.
Gempa tektonik yang di susul tsunami pada hari Senin 17 Juli 2006 di Selatan Jawa semakin meramaikan daftar bencana di negeri bahari ini. Walaupun telah jelas pengalaman dari bencana sebelumnya. Masih banyak korban yang berjatuhan, sarana dan prasarana banyak yang rusak. Kita seakan tak bisa belajar dari bencana sebelumnya. Pemerintah dalam hal ini masih terlihat lamban dalam mendeteksi tsunami dan menurut sebagian media massa adalah suatu kesalahan yang fatal. Bagaimana tidak, berdasarkan catatan United Stated Geological Survey, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik di Hawaii dan Japan Meteorogical Agency (JMA) sudah mengingatkan pemerintah Indonesia bakal datangnya tsunami. Pesan itupun akhirnya menjadi kontroversial dikalangan pejabat tinggi.
Ledakan pipa gas Pertamina di Sidoarjo

Pada tanggal 22 November 2006 pukul 20.25 WIB telah terjadi ledakan pipa gas Pertamina, yang terletak antara Km 37-38 Jalan Tol Surabaya - Porong, di dekat Relief Well 2. Kejadian ini menyebabkan jebolnya tanggul penahan lumpur PT Lapindo Brantas dan mengakibatkan melimpahnya lumpur ke jalan sehingga jalan tol ditutup. Akibat ledakan pipa gas dan kebakaran yang ditimbulkannya telah mengakibatkan korban jiwa, dengan rincian 9 orang meninggal, 11 orang luka dan dirawat di RSUD Sidoarjo dan RS Dr. Sutomo, serta 1 orang di nyatakan hilang.8 Hingga akhirnya, Presiden dalam rapat kabinet terbatas menyatakan bahwa ini adalah bencana Nasional. Pemerintah mengatakan PT. LAPINDO BRANTAS bertanggung jawab penuh atas bencana yang disebabkannya.
Sedangkan dari data terakhir yang yang diperoleh, telah terjadi gempabumi berkekuatan 6,2 Skala Richter pada tanggal 29 November 2006 pukul 08.32 WIB. Pusat gempa berada pada 2.58 LU - 128.32 BT (228 km Timur Laut Ternate atau 12 Km Barat Laut Hapo, Pulau Morotai), dengan kedalaman 72 Km. Gempa bumi ini tidak menimbulkan Tsunami. Gempabumi dirasakan di Ternate (III-IV MMI), Manado (II-IIIMMI), dan Halmahera Timur (II-III MMI).
Hingga pukul 12.00 WIB dilaporkan data kerusakan di Hapo, Pulau Morotai berupa 1 unit masjid dan 1 unit Sekolah Dasar rusak berat, serta 10 unit rumah rusak.9
Bencana sebenarnya takkan pernah mundur secara teratur menjadi diam. Bencana membutuhkan pemahaman agar kelak dapat di antisipasi kedatangannya , di petik hikmah yang dibawanya. Sekaligus menjadi ajang intopeksi bagi kita semua. Bukankah anugrah dan bencana adalah kehendak-Nya?
Apa yang dilakukan saat bencana lagi ngtrend?
Rentetan bencana yang menimpa Indonesia sebagaimana dikemukakan diatas menyisakan pelajaran yang harus kita kaji bersama. Kita semua setuju, bencana merupakan kehendak sekaligus anugrah dari Sang Pencipta. Kenapa tidak, disamping sebagai ujian bagi kita, tak sedikit hikmah yang kita ambil setelah bencana menimpa kita. Juga, peranan manusia tak terlepas atas kedatangan bencana. Tak jarang bencana yang datang akibat ulah manusia. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat ar-Rum ayat 4, disebutkan “Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar.
Kenyataannya, kerentanan bencana yang datang selalu menimbulkan korban yang tidak sedikit, infrastruktur habis runtuh, perekonomian melemah,menambah jumlah pengangguran. Apabila sampai hari ini tidak dirumuskan langkah yang pasti mengenai penanggulanagan bencana, kemungkinan besar peradaban manusia akan hancur, tatanan kehidupan runtuh. Berbagai studi yang berkaitan dengan bencana alam belum mampu menjawab tantangan yang akan dihadapi. Menarik apa yang dipaparkan Arya Gunawan dalam kolomnya di Kompas, ia mengatakan: “Konferensi Dunia tentang Langkah Pengurangan Bencana Alam, yang berlangsung lebih dari satu dasawarsa silam, 23-27 Mei 1994 di Yokohama, Jepang. Forum ini pada masa itu merupakan forum terbesar tentang bencana alam, yang pernah diselenggarakan sepanjang sejarah. Tercatat lebih dari 5.000 peserta hadir, yang berasal dari 148 negara. Frank Press, ketika itu menjabat sebagai Presiden Akademi Sains Nasional Amerika Serikat yang juga menjadi salah satu penggagas forum tersebut, merumuskan dengan persis ihwal minimnya pengetahuan dasar menghadapi bencana ini: "Bencana alam merupakan sebuah peristiwa yang tragis, bukan saja karena kehilangan besar yang dialami para korban, melainkan juga karena peristiwa itu sering kali dapat dihindarkan.
Langkah-langkah pengurangan jumlah korban dan langkah untuk menjamin masa depan yang lebih baik sebenarnya telah tersedia."10

Langkah-langkah Penanggulangan Bencana
Secara umum ada tiga tahap proses bencana. Tahap pertama meliputi sebelum bencana (pra-bencana). Tahap kedua, ketika bencana. Sedangkan terakhir, tahap sesudah bencana (pasca-bencana). Hingga menurut analisa saya langkah-langkah yang pasti dalam tiga fase tersebut. Berikut paparan mengenai tiga fase tersebut:
a. Prabencana
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum bencana terjadi. Bukan kita mengharapkan bencana itu datang. Namun, seyogianyalah kita mempersiapkan diri, karena bencana sama seperti maut. Datang secara tiba-tiba, lalu menyapu semua yang ada dipermukaan bumi sekitarnya.
1. Kesadaran akan pentingnya pemahaman terhadap bencana
Layaknya seorang mahasiswa yang ingin masuk keperguruan tinggi, ia harus mempersiapkan diri dengan sederetan ilmu dalam menghadapi SPMB. Bimbingan belajar dan sejumlah persiapan lain dilakukan demi meraih predikat mahasiswa. Alhasil, ia mampu meraih satu kursi di perguruan tinggi sekaligus tampil sebagai pemenang diantara pesaing lainnya. Ia sadar akan pentingnya sebuah masa depan. Ia sadar bahwa yang harus ia penuhi adalah pemahaman tentang apa itu SPMB dan perguruan tinggi.
Begitu juga bencana, kita harus memahami apa itu bencana. Kasus tsunami Aceh menunjukkan pemahaman datangnya bencana masih kurang di kalangan masyarakat kita. Fenomena air laut yang secara tiba-tiba menyurut membentuk sebuah pantai baru. Tak terpikir oleh masyarakat bahwa yang terjadi adalah awal bencana yang besar, melainkan mereka “tergiur’ dengan rezeki ikan yang berserakan. Sesudah itu, gelombang raksasa dengan kecepatan tinggi, gemuruh yang kuat dan menakutkan seketika itu menyapu bersih masyarakat dan semua yang ada di dekat pantai. Tak cuma itu, akibat surutnya air laut tadi sampai hari ini Aceh masih dalam trauma yang mendalam.
Memang, usaha untuk tidak mengulangi kelalaian menghadapi bencana telah dilakukan berbagai pihak terhadap masyarakat dalam hal simulasi. Pemerintah Pusat maupun Daerah, BMG, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, Media massa maupun Lembaga Kemasyarakatan telah banyak melakukan kegiatan seminar, sosialisasi, maupun simulasi dalam menanggulangi bencana. Hingga hari ini, kita dapat melihat di berbagai media massa yang selalu memaparkan perkembangan terkini bencana alam.
Namun, apabila kesadaran masyarakat tidak ada akan pentingya memahami bencana, maka semua itu adalah hal yang sia-sia. Pemerintah dalam hal ini harus terus berusaha memberikan stimulasi dalam pemahaman bencana. Mengutip pernyataan David J. Scwartz yang mengatakan“ Percayalah , benar-benar percaya bahwa Anda akan berhasil, maka Anda pun akan berhasil”11. Pemerintah harus mengambil langkah untuk mengembangkan opini bahwa kita bisa menanggulangi bencana. Pemerintah, bisa menggandeng media massa sebagai mitra dalam pengembangan opini tersebut. Karena kita tahu, peranan media massa di era globalisasi ini sangatlah penting. Teori dari provokator ulungpun, Samuel Hungtinton kalau tidak dirilis media massa takkan seperti ini dunia jadinya. Media massa baik cetak maupun elektronik telah mendapat predikat “sahabat sejati” bagi semua kalangan masyarakat. Informasi yang dibawa media massa tak mengenal ruang, waktu dan tempat. Seperti kata Pak Harto, globalisasi informasi mau tidak mau suka tidak suka harus kita terima.
Media massa sebagai sekolah informasi bagi masyarakat harus bisa mengubah cara pandang masyarakat terhadap bencana. Peranan media massa harus dijadikan sebagai gudang ilmu bencana. Perlu dukungan yang kuat dari pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, maupun pihak-pihak yang peduli dengan bencana.
Pemerintah juga harus belajar bagaimana cara memahami bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Kelambanan mengambil keputusan tentang datang atau tidaknya bencana harus di kubur habis.
Pemerintah juga harus tegas menegakkan hukum kepada kasus yang menimbulkan bencana. Banjir, kebakaran, bencana lumpur dan kekeringan adalah rata-rata disebabkan oleh prilaku oknum yang tidak bertanggung jawab. Karena ambisi nafsu para oknum terlalu latah merusak keseimbangan alam. Selain pengusaha, oknum pejabat juga ikut menjadi aktor pengundang bencana.
Kesadaran akan pentingnya memahami bencana merupakan kewajiban bagi semua pihak. Tak terkecuali bagi pemerintah daerah yang takut di juluki daerah rawan bencana, karena takut insvestor mangkir. Kita tidak mau apabila suatu pemerintah daerah lebih mengutamakan kepentingan investor dari pada nyawa masyarakat. Harus ada dialog yang sehat antara pemerintah, investor dan masyarakat dalam melanjutkan kehidupan di tengah bencana. Dialog itu bisa berupa menanamkan pentingnya kesadaran akan memahami bencana.
2. Kembali ke surau
Ada satu hikmah sekaligus pelajaran bagi kita tatkala bencana datang. Tsunami Aceh misalnya, ketika orang-orang berlari sejauh mungkin untuk menghindar dari bencana. Ada yang naik atap rumah, mendaki gunung dan yang paling menarik perhatian adalah ketika ratusan orang lari ke masjid. Dengan kekuasaan Allah, masyarakat yang berlindung di masjid akhirnya selamat dari bencana. Hal ini membuktikan bahwa siapa yang berlindung ke rumah Allah niscaya ia akan selamat. Kembalilah ke surau ( Masjid).
Yang lebih penting dan ditekankan disini adalah kita harus meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Dalam artian, memasuki Islam secara kaffah. Usaha memahami bencana dari surau sangat penting. Di surau kita perbanyak berzikir dan mengintropeksi diri. Apakah yang kita lakukan selama ini sudah sesuai dengan amanat orang-orang dengan surau ( ulama-red). Kita bersihkan diri kita dari dosa serta bertaubat dengan sungguh-sungguh. Surau sebagai rumah Allah dan Allah akan melindungi orang-oramng yang bertamu kerumah-Nya.
3. Kekuatan Hati
Kekuatan hati sangat menentukan dalam menghadapi segala sesuatu. Tak terkecuali itu bencana. Jauh sebelum bencana datang, elemen paling penting adalah menyiapkan diri menghadapi bencana. Dalam menyiapkan diri, harus ada rasa keyakinan bahwa bencana datang untuk menguji seberapa jauhkah kuat diri kita menghadapinya. Kekuatan hati di bangun berupa keyakinan bahwa bencana ada hikmahnya dan agar bersabar ketika hidup berdampingan dengan bencana.
Kekuatan hati menghadapi bencana dapat ditingkatkan dengan memahami bencana dari segi bagaimana seharusnya sikap ketika bencana datang. Hal yang vital adalah melakukan serangkaian latihan untuk kesiapan menghadapi bencana. Mengerahkan seluruh elemen masyarakat agar menguatkan opini bahwa bencana adalah sesuatu yang harus di hadapi dengan tenang dan penuh perhitungan. Kekuatan hati dibangun dengan selalu dzikrullah setiap saat. Dimana, kapan dan siapapun orangnya. Hingga tak di sadari bahwa ketika bencana, otomatis akan timbul sikap yang penuh percaya diri. Yakin sepenuh hati bahwa yang dihadapi adalah jalan menuju syuhada.
4. Lengkapi dirimu
Metode sedia payung sebelum hujan sangat penting saat ini ketika bencana lagi ngetrend. Obat-obatan, pakaian dan sejenisnya harus di siapkan mulai dari dini. Mengasuransikan harta maupun diri juga sangat penting agar ada keringanan pasca bencana. Misalnya, sebelum bencana gempa datang. Ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Perlengkapan mamasak praktis,P3K, baterai ekstra, Radio portabel lengkap dengan baterainya, perlengkapan mandi dan mencuci, pakaian pelindung dan jas hujan, kantong tidur dan obat-obatan penting. Memperkokoh perabot rumah tangga juga sangat perlu, mengetahui nomor telepon penting (BMG, Polisi). Mempelajari cara-cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi nantinya.
5. Koordinasi penanggulangan bencana yang tangguh.
Hari ini, satu hal yang vital sangat di perlukan. Belajar dari kasus bencana belakangan ini di mana koordinasi antara pihak masyarakat, TNI, Palang Merah Indonesia, Dinas Kesehatan dan sejumlah elemen yang membantu poses pengevakuasian pasca bencana mengalami tumpang-tindih pertolongan bagi para korban. Hal inilah yang menyebabkan kelambanan evakuasi. Seharusnya, pemerintah bertanggung jawab penuh dalam pengkoordinasian tersebut.
6. Minimnya dana untuk bencana
Kelemahan penanggulangan bencana selama ini di dasari karena tidak adanya kejelasan political will pemerintah yang mampu memahami bencana dalam hal pengalokasian dana untuk pencegahan bencana, mendeteksi bencana, serta proses rehabilitasi dan rekontruksi.

Hal ini jugalah yang menyebabkan koordinasi menghadapi bencana ambu radul. Karena dana bencana selama ini tidak jelas, ada yang namanya bantuan tunai belum lagi tentang berapa besar kerugian yang harus di bayar negara untuk korban. Jenis-jenis harta maupun bangunan yang patut di ganti rugi negara. Menyeleksi bantuan yang datang dari pihak asing, karena kita semua tahu bantuan pihak asing itu kadang-kadang mempunyai agenda terselubung, misionaris misalnya.
Undang-undang bencana juga berperan aktif dalam memperbaiki pendidikan pascabencana. Mengatasi masalah bangunan yang hancur, tenaga kependidikan yang menjadi korban dan sejumlah permasalahan lainnya harus menjadi prioritas utama untuk kelancaran pendidikan selanjutnya.
Di samping itu, undang-undang harus menegakkan hukum disaat-saat pascabencana. Prilaku korupsi yang keluar ketelinga publik akhir-akhir ini sangat ironis. Proyek “basah” dimainkan dalam rehabilitasi dan rekonturksi.

7. Perda Penanggulangan Bencana
Hasil survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama United Nations Education Science dan Culture Organization (UNESCO) di Padang dan Bengkulu, dua daerah yang dalam perhitungan ahli Geologi LIPI bakal menerima ancaman sedasyat Aceh dalam beberapa tahun depan ini.
Daerah rawan bencana lainnya juga seperti Pulau Jawa, Bengkulu, seyogianya memikirkan perda penanggulangan bencana. Karena kita ketahui, sistem sentralisrik dalam memetapkan peraturan kadang-kadang tidak sesuai dengan situasi kondisi suatu daerah. Dalam hal ini, Perda ini bertujuan untuk lebih memokuskan perhatian daerah dalam menanggulangi bencana. Seperti Sumatera Barat, dalam hal menyikapi tsunami. Gubernur Gamawan Fauzi akan menerapkan peraturan daerah di tingkat provinsi dan kabupaten dan kota. Tujuan perda itu sendiri untuk meminimalisir korban. Perda ini sangat penting karena sekitar hampir sejuta penduduk Sumatera Barat tinggal di daerah pesisir yang rawan bencana tsunami. Peraturan ini antara lain akan mengatur anggaran pembangunan fisik, seperti pembuatan jalan yang mengarah ke tempat yang lebih tinggi, pembuatan peta serta buku dan komik tentang tsunami.
Selain itu, juga kalau perlu ada lagu peringatan bahaya tsunami seperti di Simeulu, agar melekat pada masyarakat.Dalam aturan yang sedang disusun ini juga akan mewajibkan daerah lain di sumatera Barat yang tidak terkena tsunami harus membantu daerah yang terkena. Misalnya, Kota Padang yang tertimpa maka Daerah Solok wajib membantu.12
8. Memperkuat alat pendeteksi bencana
Sebagaimana kita ketahui bencana alam seperti tsunami bisa dideteksi kedatangannya. Tsunami Early Warning System (TEWS) yang kita miliki saat ini belum mampu mengantisipasi bencana tsunami secara optimal. Hal ini juga diakibatkan karena kekurangakuratan data oleh pihak yang menanganinya, seperti BMG. Adanya keraguan dalam mengambil keputusan juga memperkeruh tragedi tsunami. Kita lihat kasus tsunami Selatan Jawa, sebenarnya sudah ada peringatan tsunami dari United Stated Geological Survey, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik di Hawaii dan Japan Meteorogical Agency (JMA). Namun, pemerintah masih ragu-ragu akan keakuratan data tersebut.


b. Ketika Bencana
Sewaktu bencana terjadi ketika kita sedang dalam kegiatan sehari-hari. Realita menunjukkkan kebanyakan dari kita salah mengambil langkah yang seharusnya kita bisa melakukan upaya penyelamatan yang lebih baik.
Langkah pertama yang harus di ambil adalah bersikap tenang, jangan panik. Jika panik sikap yang diambil maka suasana akan semakin kacau. Seseorang yang tenang ketika menghadapi satu permasalahan biasanya akan berhasil. Tenang disini bukan pasrah terhadap bencana, melainkan tenang hatinya sehingga bertindak dengan matang.
Bukan seperti kasus seorang yang soleh ketika bencana banjir terjadi, ia tenang tapi tidak berbuat apa-apa, pasrah akan pertolongan Allah. Ia tidak mau mengambil keputusan untuk ikut naik perahu ketika tim penyelamat datang. Akhirnya, ia harus tenggelam karena tidak matang dalam mengambil keputusan.12 Langkah kedua, layaknya ketika kita sedang mengalami kecelakaan maka sesudah terjadi kita memastikan apakah ada yang terluka atau memar. Begitu juga tatkala bencana datang, pastikan diri apakah selamat atau tidak. Jika memang selamat maka bersyukurlah dan menjauhlah untuk keselamatan diri yang lebih baik. Jika didalam rumah, cepatlah keluar.
Langkah ketiga, larilah ke Masjid. Belajarlah dari kisah Rasulullah. Apabila terjadi mendung, awan hitam dan angin kencang, wajah Nabi SAW yang terbiasa memancarkan nur, akan terlihat pucat karena taku kepada Allah. Beliau keluar masuk masjid sambil berdo’a” Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya.” 13
Langkah ketiga, apabila anda yakin bisa membantu. Berusahalah membantu apa yang bisa dibantu. Tanamkan dalam jiwa ketika itu bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling banyak manfaatnya. Jauhi prilaku “iblis” seperti menjarah barang orang lain, menangis yang berlebihan. Evakuasilah korban sebanyak mungkin. Atau hubungi pihak-pihak yang siap membantu.
Langkah ke empat, peranan media massa sangat vital saat bencana terjadi. Sebaiknya, peranan media massa harus lebih memfokuskan pada pemberitaan bencana. Walaupun kehadiran media massa takkan berjalan kalau tidak ada komersialisme. Media massa harus bekerja keras mendokumenter bencana agar nantinya menjadi bahan pembelajaran bagi semua kalangan.

c. Pascabencana
Selain mengantisipasi gempa susulan berikutnya. Hal yang paling penting di perhatikan pascabencana adalah proses pertolongan/evakuasi bagi para korban. Dalam hal ini di samping pihak TNI, PMI dan relawan yang sangat di butuhkan tenaganya, ada sisi penting yang sering kita abaikan. Yaitu peranan masyarakat yang terdekat dengan lokasi bencana. Logikanya, tetangga yang paling dekatlah yang paling tahu mengenai tetangganya. Sikap cuek terhadap orang yang tertimpa musibah akan memperkeruh suasana. Masyarakat terdekatlah yang pertama mengulurkan tangan untuk membantu. Kesiapan masyarakat terdekat yang selamat sangat menentukan keberhasilan proses evakuasi.
Pihak TNI, Palang Merah Indonesia, Dinas Kesehatan, dan sejumlah elemen yang membantu proses evakuasi harus berada dalam koordinasi yang efektif, ditangani serius oleh pihak pemerintah. Kelemahan koordinasi selama ini mengakibatkan ketumpang-tindian bahkan membuat malu. Kenapa tidak, pihak asing ( kasus Aceh) bertindak lebih dahulu (Tentara AS vs TNI). Koordinasi penanganan pasca-bencana dapat di bentuk jauh sebelum bencana terjadi. Seperti yang dipaparkan sebelumnya.
Proses evakuasi harus mempercepat pemakaman korban apabila meninggal. Cara pemakamannya harus tetap sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini bisa di perhitungkan dengan ulama masyarakat setempat, maupun MUI.
Air bersih, obat-obatan, makanan, pakaian dan posko darurat adalah hal kedua yang harus di siapkan untuk korban. Hal ini jelas-jelas untuk mengantisipasi bencana kedua yaitu kelaparan dan penyakit menular. Dalam hal ini Tim Medis harus benar-benar siap dengan segala peralatannya. Dinas kesehatan ( Rumah Sakit) seyogianya bertindak lebih arif menangani para korban, pihak rumah sakit tidak logis jika bersikap pandang buluh terhadap korban. Apalagi peran TNI maupun sukarelawan lainnya sangat di butuhkan dalam mendirikan posko untuk para korban.
Pendirian tenda darurat juga harus memperhatikan keadilan. Baru-baru ini di beritakan media massa, Duta PBB untuk kemanusiaan mantan Presiden AS Bill Clinton menyesalkan bahwa masih ada korban bencana tsunami Aceh yang tinggal di barak. Sebaiknya, pemerintah bersikap lebih arif dalam hal ini.
Penanganan korban selanjutnya di berikan melalui therapi ketenangan dengan tujuan menumbuhkan kembali semangat hidup korban. Motivasi semangat hidup sangat di perlukan untuk mempercepat kesembuhan spritual para korban. Apabila kecerdasan spritual korban sudah berhasil di tumbuhkan, apapun program selanjutnya akan berjalan dengan lancar. Disinilah peran Tim koordinasi yang lebih handal dan berpengalaman mengatasi kehampaan semangat hidup karena bencana yang menimpa.
Penanganan korban yang kehilangan rumah maupun bangunan lainnya sebaiknya di cermati secara matang. Disinilah peran aktif Undang-undang bencana berjalan. Jangan ada lagi istilah rumah yang sengaja di robohkan.
Belajar dari Jepang tatkala tragedi Hiroshima, yang dilakukan pemerintah Jepang adalah perbaikan pendidikan. Hal ini karena kita semua tahu bahwa pendidikanlah yang menentukan peradaban manusia. Pendataan unsur-unsur pendidikan seharusnya secara cepat dilaksanakan. Hal ini bisa di lakukan oleh media massa dalam mengumpulkan data, selanjutnya di teliti oleh pemerintah.
Pembangunan pendidikan di daerah bencana harus menjadi prioritas utama pemerintah. Mendatangkan atau mengundang tenaga kependidikan adalah suatu solusi yang relevan. Melalui pendidikan yang berskala dan prioritas para korban bencana dapat bangkit kembali membentuk sebuah peradaban masyarakat yang lebih baik.
Pemberian lapangan pekerjaan bagi korban bencana adalah merupakan suatu jalan yang harus di realisasikan. Pemikiran ini didasari agar para korban tidak selalu bergantung pada bantuan yang datang. Pemerintah ( dalam hal ini penerapan Undang-undang bencana) harus bersikap lebih kreatif dalam memberi lapangan pekerjaan bagi para korban. Memantapkan sistem koperasi yang di bawa Muhammad Hatta sangat strategis dalam memberi lapangan pekerjaan. Pemerintah juga harus bisa bekerja sama dengan swasta untuk kelangsungan penerapan sistem ini. Memantapkan sistem hidup mandiri bagi para korban.
Akhirnya, penanggulangan bencana yang kita harapkan dapat meminimalisisir kerugian dan korban. Semua itu butuh kerja sama dan semangat memahami bencana. Walllahu a”lam bisshawab.