Sekian lama sudah dihati terpendam untuk menorehkan goresan-goresan kalbu yang terpancar dalam rentetan kalimat ini. Jujur, perjalanan melelahkan selama tiga hari Padang-Medan pulang pergi hanya untuk menyambut keluarga yang berpulang dari tanah suci pada tanggal tanggal 6-9 Januari lalu menyisakan hal-hal yang urgen untuk saya perhatikan. Ada hal menarik yang dapat saya petik tatkala kebiasaan saya ketika pulang selalau mencari Harian Waspada. Sesampai di terminal Amplas berujung ke terminal pusat ALS saya tetap berusaha mencari harian terkemuka kelima Nasional menurut perhitungan suatu lembaga beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, saya masih bisa mengobati hausnya mata ini untuk membaca. Lantas tanpa banyak bertanya, saya suguhkan uang dua ribuan kepada gadis yang sedang sibuk melayani raja-rajanya (pembeli-red). Tertulis angka 60 bercetak tebal biru di sudut kanan harian yang saya pegang. Saya berpikir ini menandakan usia perjalanannya sudah bukan lagi masa yang muda melainkan rentang waktu yang penuh kelelahan dan keberanian dalam menegakkan kebenaran dan keadilan Dan khabarnya, harian ini juga telah meluncurkan buku yang berjudul “Berita Peristiwa 60 Tahun Waspada”.
Frof. Bactiar Hassan Miraza dalam artikelnya (9/1) telah banyak menyingkap sejarah perjalanan Waspada serta kontribusi nyata sudah banyak dirasakan masyarakat. Sedikit saya ambil pernyataan beliau,”Bertahannya pelanggan pada harian waspada adalah indikator harian ini telah mampu memenuhi kepuasan pelanggannya. Sifat bertahan ini hendaknya berdasarkan kekuatan pasar (freemarket) bukan pasar yang dikomandoi secara etnis maupun politis dan tekanan”. Hingga menurut saya apa yang dipaparkan beliau dalam pandangan saya merupakan Kado yang Terindah bagi Waspada di usia ke 60 ini.
Mewaspadai dead-line
Saya tidak menyangka di bulan-bulan terakhir saya di MAN Sibuhuan, tahun pelajaran 2004/2005 lalu. Seorang guru saya lulusan USU memberikan saya amanah untuk memegang pundak perjalanan Majalah Dinding OSIS untuk terbit pertama kalinya, mulanya saya agak ragu. Namun setelah saya pikir dalam-dalam, ditambah hobi saya membaca dan mengola informasi yang continioue saya terima dari harian ini setiap sore hari. Maklum, jujur baru sore hari saya bisa membaca harian Waspada karena jarak kota Medan dengan Sibuhuan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Wajar, Hassan Miraza bersyukur bisa membaca Waspada sebelum pukul enam pagi karena beliau ada di Kota Medan, saya juga kala itu sangat bersyukur bisa membaca Waspada sebelum pukul enam magrib. Bukankah masing-masing kami masih berputar di sekitar jam enam, satu hari itu juga. Walau kokok ayam sudah agak berbeda dari subuh hingga maghrib.
Kembali pada Majalah Dinding tersebut. Edisi mingguan majalah dinding tersebut saya usahakan agar tidak terlambat. Antusias rekan-rekan siswa juga begitu tinggi. Hingga pada akhirnya saya dan tim redaksi begitu kewalahan memilih karya mana yang harus di terbitkan. Khusus artikel utama atau kolom depan, belum banyak yang menorehkan karyanya untuk kolom ini. Disinilah peran Waspada, yang sangat membantu saya saat itu ketika dead-line mading tersebut tinggal satu malam lagi. Habislah malam saya sampai pukul sebelas malam hanya bertemankan sebuah mesin ketik tua dari kantor tata usaha dan harian Waspada yang saya kumpulkan artikel-artikelnya telah terselip dalam tas. Dan tak jarang mesin ketik tua tersebut harus hijrah dari sekolah menuju rumah, paginya saya bawa lagi saat hendak berangkat sekolah karena saya tidak tega melihat kolom-kolom majalah dinding tersebut bolong-bolong.
Rupanya, waktu membawaku lepas dari sekolah menuju bangku kuliah. Artikel-artikel tersebut tetap ku simpan kedalam tas hingga hari ini. Alhamdulillah masih utuh hingga hari ini walau sedikit demi sedikit kecolongan oleh Poli-Tikus, makna poli-tikus disini saya sandarkan pada artikel DR. Ir. Satia Negara Lubis, Mec, Waspada (19/12’06) lalu. Dilain sudut, hati saya terasa pilu dan sedih mendengar pemaparan adik kelas saya yang saya jumpai ketika dia melanjutkan kuliahnya setahun kemudian ke Ranah Minang juga, sebagaimana tempat saya juga menimba ilmu. Kenapa tidak, kado yang ingin saya berikan pada ulang tahun pertama mading OSIS tersebut (21 Februari 2005) harus saya simpan dalam nadi-nadiku. Katanya, mading tersebut sudah dimuseumkan di belakang gedung sekolah karena tatkala itu ia rubuh disebabkan santunnya kaki orang yang bermain bola di lapangan hijau sekolah. Yang saya sesalkan, dari sekian banyak kaum pendidik yang bertitel sarjana dari guru-guru saya. Apa tidak ada yang mau berjalan di jalan Allah untuk Fastabiqul khoirot dalam dakwah bil kalam. Ironis memang. Dan saya akui, juga merupakan kesalahan person saya karena tidak menanamkan pengkaderan yang efektif buat regenerasi redaksi mading tersebut.
Kado yang tertinggal
Khazanah pemikiran terkini membutuhkan pemahaman dari berbagai aspek, tak cukup kita memandang dari satu sisi bidang ilmu, dari satu kelompok masyarakat. Begitu juga dengan keberadaan 60 tahun Waspada yang telah begitu setia menemani kaum cendikiawan, birokrat, pengusaha, mahasiswa, pelajar apalagi masyarakat Sumatera Utara pada umumnya. Sejauh perkembangan kedewasaan hari ini. Mengingat keintelektualan generasi muda cendekiawan (mahasiswa-red) membutuhkan sarana yang efektif untuk pengembangan kepribadian, menyikapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks di tengah globalisasi, sekaligus menyuarakan hati nurani cendikiawan muda tersebut dan predikatnya sebagai Agent of Change . Apalagi, kita semua tahu pada historis negeri ini dimana negeri tetangga yang hijrah ke tanah kita untuk mencari ilmu. Sekarang kita yang ramai-ramai pindah ke negeri jiran tersebut karena di negeri sendiri tidak dihargai. Misalnya, seorang guru lebih bermartabat di negeri jiran tersebut dari pada di bumi nusantara ini.
Memang hak preogratif ada pada pimpinan redaksi beserta jajarannya untuk menentukan rubrik pada harian ini. Siapalah saya, hanya seorang mahasiswa yang haus akan ilmu kepenulisan, dahaga akan pemikiran-pemikiran yang tidak membuat orang bingung apalagi murtad serta merindukan cendikiawan muda Sumatera Utara kembali menancapkan taringnya di kancah dunia intelektual terkini. Bukankah cendikiawan Andi Hakim Nasution pernah menorehkan karyanya di kancah intelektual masa lalu, dari sekian banyak cendikiawan dari pulau paling utara di Sumatera ini. Disinilah, saya harapkan peranan harian waspada dalam melahirkan cendikiawan muda Sumatera Utara yang berani mengeluarkan ide-iede cemerlangnya melalui harian ini. Tentunya, pimpinan redaksi serta staf redaksi dengan tulus hati memberikan satu ruang intelektual bagi mahasiswa sebagaimana fungsinya seperti yang telah saya kemukakan di atas. Bentuknya bisa seperiti suara Mahasiswa pada salah satu surat kabar harian Nasional. Hingga pada akhirnya juga semua berpulang kepada Harian Waspada yang menjadi promotor informasi terbesar di Sumatera Utara.
Pesta ulang tahun Waspada di usia yang ke 60 tahun ini telah berlalu. Semoga menjadikan Waspada lebih berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Mengumpulkan benang-benang permasalahan yang terserak secara cepat dan aktual. Saya kutip kalimat terakhir ini dari salah satu kumpulan puisi Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berjudul ‘Mahligai Cinta” yang berbunyi; “Anak-anakku, kau bangun mahligai cinta. Di taman kehidupanmu yang teduh hari ini, kembang masih tengah mekar di hatimu…., Perjalananmu panjang, anakku dan tak miskin rintangan serta godaan. Namun, layar telah kau kembangkan. Jangan surut dan tertinggal buritan. Satukan jiwamu, jemput masa depanmu, di tanah kemangan abadi dalam keberkahan Tuhan” . Sebagai kado yang tertinggal dalam harian ini untuk Waspada yang tercinta. Jayalah negeriku, Waspadalah bangsaku. Walllahu ‘alam bisshawab.(12 Jan 2007)

No comments:
Post a Comment
Bercita-citalah serendah-rendahnya, berbuatlah setinggi-tingginya,