Saturday, October 24, 2009

PELAYAN diantara PENGUASA

Jika memang benar nantinya aplikasi dari paradigma baru “Rektor adalah Pelayan” yang sedang dibangun rektor baru IAIN Frop. Sirajuddin Zar kita semua patut memberikan applaus. Frop. Sirajuddin Zar mengatakan ” Rektor, Biro, Pembantu Dekan, Kabag, Kasubag dan dosen adalah pelayan”* Pelayan yang membantu kita semua untuk menuju cita–cita bersama. Pelayan yang dengan senang hati menerima keluhan-keluhan. Pelayan yang siap merangkul ketika kedinginan. Namun, tak semudah itu menjadi pelayan seperti yang di sebutkan beliau, jika nantinya tersandung oleh niat yang apabila awalnya untuk mencari prestise atau sekadar live service. Kita berharap tidak demikian.

Satu pertanyaan radikal yang patut kita renungkan secara teratur dalam keintelektualan hari ini adalah sanggupkah Frop. Sirajuddin Zar merubah setiap penguasa di kampus Islami ini menjadi pelayan. Setelah sekian lama mereka-mereka memproklamirkan dirinya sebagai penguasa yang berbuat semena-mena.

Penguasa itu berjubahkan jabatan yang sering duduk di bawah ruangan ber-AC dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang membingungkan warga kampus. Kebijakan yang selalu menyepelekan kehadiran si penerima kebijakan. Apa salahnya, di buat sistem komunikasi efektif agar tidak terjadi kejadian-kejadian yang akhirnya di keluhkan penguasa pembuat kebijakan.

Penguasa itu bernama seorang Guru fropessional yang selalu berprinsip semau gue. Jika mahasiswa terlambat sedikit karena ada urusan penting, tak ada lagi kata maaf, di anggap tidak hadir. Namun, ketika Sang Guru fropessional berbuat demikian, ia cukup berkata I’ Sorry, I come late. Bahkan, ada Seorang Guru fropessional yang hanya tempel nama di daftar dosen mata kuliah dalam sebuah ruangan intelektual, entah di mana rimbanya. Wajahnya yang mungkin tampan dan gagah, hanya menjadi perbincangan mingguan di antara rekan-rekan yang sudah “merindukan” kehadiran beliau.

Penguasa itu bernama Seorang Guru fropessional yang selalu dan selalu berharap pada mahasiswa, pelepas dahaga khususnya. Realita menyedihkan ini ada ketika Anda melihat ke setiap ruang intelektual pasti ada bekas tempat H20 yang rata-rata berwarna hijau muda. Hal itu sah-sah saja jika mahasiswa memberikan pelepas dahaga tersebut secara ikhlas. Namun, akan menjadi lain ketika Seorang Guru fropessional berkomentar seperti ini, “ Apa tidak ada (…...) untuk saya hari ini?”.

Karena, keharusan adanya kebutuhan pelepas dahaga tersebut belum pernah tercantum dalam konstitusi atau peraturan di kampus ini. Belum pernah ada satupun kebijakan pihak fakultas atau rektorat yang mewajibkan itu. Sejauh perbincangan saya dengan berbagai pihakpun, belum pernah ada satu orang yang mengakui bahwa itu adalah yang di haruskan. Bahkan, Drs, Sueb Karseno sewaktu kuliah dengan saya pada semester pertama pernah berujar.” Saya tidak tega meminum itu, itu adalah uang tua kamu. Itu kezhaliman bagi saya."

Kata mereka, itu ada karena kebiasaan. Tak jelas asbabun nuzzulnya. Jika kita di kaji hal lain yang akibat kebiasaan tersebut. Mungkin kita bisa membuat panti asuhan bagi para dhuafa yang sering berkunjung ke kampus Islami ini atau kita bisa menyewa cleaning service yang berkompeten untuk membersihkan WC yang ada di tiap gedung kampus Islami ini.

Penguasa itu bernama mereka-mereka yang bergelar agent of change yang tangannya terlalu ramah mengepal lalu mendarat di wajah orang lain. Semua tahu bahwa mereka adalah “orang-orang pilihan” yang siap menjadi bintang Smack down. Tapi, bukan disini tempatnya. Penguasa itu bernama makhluk yang bergelar Agent of change yang memegang sebuah UKM. Berprilaku otoriter layaknya Fir’aun zaman komtemporer, berpikiran terlalu egoisme, mengangkat dan mencopot sebuah kepanitiaan dengan semena-mena. Menafikan musyawarah, melecehkan demokrasi dan menginjak-injak rasa keadilan.

Saya yakin, Frop. Sirajuddin Zar mempunyai keahlian untuk menjinakkan para penguasa tersebut lalu merubahnya menjadi pelayan seperti yang di harapkan beliau dan siap membawa kita bersama menuju Kampus Islami, Berkarya Islami Wallahu a’lam bhissawab

No comments:

Post a Comment

Bercita-citalah serendah-rendahnya, berbuatlah setinggi-tingginya,