Kadang saya berfikir, misteri apa lagi yang akan terjadi dalam hidup kita nii. Amanat apa gerangan pada tulisan tangan yang kutemukan dalam lemari tua, di sebuah rumah tua yang telah ditinggalkan “Tokoh Pembangunan Keluarga (kenapa harus Bapak Pembangunan Indonesia saja yang ada) beserta istrinya” 9 tahun silam, untuk selama-lamanya juga. Ketika hari ini “umat berada dalam di tepi jurang kehancuran” ujar Sayyib Quthub suatu saat dalam tulisannya. Ketika hari ini”Yudhistira, seorang penjudi yang gagal, sadar: ketika ia memilih, ia ibarat melempar dadu. Tiap lemparan adalah pengakuan bahwa hidup adalah kecamuk kebetul an-kebetulan. Tak jelas alasannya. Tak jelas arahnya. Absurd” begitulah penceritaan Goenawan Muhammad dalam Catatan Pinggirnya. Dan hari ini “Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali 3 golongan; orang yang beriman, orang yang beramal soleh, orang yang menasehati dalam kebenaran” begitu tertera dalam pesan singkat seorang sahabat dalam suasana hujan malam kelam ini.
Pastinya. Yang begitu cemerlang dalam ingatan, sewaktu kecil tatkala mata ini sakit-beliaulah yang mengobati dengan menghembus mata beberapa kali dalam seminggu ,suara yang tegas ketika ada teman-teman sekampung yang mengganggu binatang piaraannya disebelah rumah tua itu. Di hari kepergiannya menghadap Ilahi saya sedang dalam menghadapi lomba adzan di sekolah Ibtidaiyah kelas 2, sungguh begitu tersayat nadiku mendengarnya. Pilu. Sepi. Hari pertama dalam sejarahku merasakan kehilangan orang yang di cintai.
Aktivitasnya setiap selesai mengimami shalat subuh langsung stand by di lapau kopi tepi jalan Medan-Padang. Dikala pulang ke rumah sekitar jam 9 pagi, berserulah ia, “Ucok godang-ucok godang (panggilang untuk anak tertua dalam adat Mandailing), sini ada gorengan sedikit ni,”sambil meletakkan jas kemeja hijaunya di samping lemari putih-yang konon kata Ayah dibeli di Padang tahun 80an-. Tak lama kemudian, radio tua tahun 50an itu pun di putar untuk mendengarkan RRI, khabar dari negeri Seberang (Malaysia dan Singapura) terdengar secara jelas. Sebelum zaman ini yang kebanyakan radio lebih cenderung pada komersialisasi. Ajaran-ajaran sekulerisme yang begitu kental.
Beliau mungkin sangat marah-siapapaun juga pasti marah besar-ketika mendengar bahwa hari ini kampung yang diperjuangkannya bersama teman-teman seperjuangannya telah menjadi salah satu kampung yang termasuk dalam kawasan “kampung nita “hutan lindung. Tanah harapan bagi keluarganya setelah pindah dari kampung sebelah disebabkan pengkhianatan seorang sahabat dalam sistem kekuasaan kampung. Hutan lindung itu telah menjarah dan meresahkan hak hidup anak-anak dan cucunya. Mungkin kalau beliau melihat SK Mentri Kehutanan No.44 Tahun 2005, pasti termenung sambil berkata”, apa maksud semua ini? Apakah kami memang bukan manusia, sehingga patut di jadikan hutan lindung rumah dan tanah ini? Padahal hutan lindung didefenisikan sebagai kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan Apakah ini sikap politisasi pemerintah daerah untuk pembebasan lahan dalam menjadikan bandara di Mandailing ini? Atau memang ini sudah takdir Ilahi…?
111
Dulu Belanda yang menjajah dan merampas hak kita,
Sekarang kawan se tano Mandiling Godang yang merenggut “nyawa” kita sendiri
Orang luar juga ikut-ikutan “menjarah” kita di otonomi daerah ini….
Semuanya akan tetap berlalu, pasti ada perubahan, sambil berkomitmen untuk tetap berdiri di depan makam Abdul Cholid Nasution, minimal sekali setahun.Wallahua’lam bhissawab…
Monday, October 19, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
Bercita-citalah serendah-rendahnya, berbuatlah setinggi-tingginya,