Lapangan Bola Malintang Julu. Kata yang memang asing dalam konteks kekinian Indonesian, apalagi belum ada semacam sejarah yang tertoreh dan patut diperhitungkan untuk menjadi sebuah “sejarah”. Hanya, disini makhluk yang bernama manusia bisa melihat jejeran Bukit Barisan yang membentang dan memuncak “setengah hati”. Dari sini jugalah terpampang dengan jelas sebuah gunung kelihatan gundul dan meresahkan hati. Kenapa tidak, menurut cerita Ompung-ompung bahwa disana terdapat sebuah”sisa” masa lalu. Masa Belanda tepatnya. Di Gunung ini pernah seorang ibu melahirkan bayi, konon ceritanya anak itu dibuang disebabkan tidak sanggup membawanya dalam kejar-kejaraan para penjajah Belanda. Hari ini, adalah anak-anak gunung tersebut memang sudah gundul disebabkan penebangan liar, kabarnya ada sebuah danau di sana, mungkin itulah salah satu penyebab banjir bandang beberapa tahun silam yang menghancurkan ratusan rumah di daerah Malintang, dan Muara Batang Gadis. Ibarat bungo layu ditangkai…demikian lantunan pop Jambi.
Hijaunya rumput lapangan bola menjadi saksi tatkala adzan maghrib bergema dari tengah-tengah kampung, menandakan waktu shalat telah tiba- para jin-iblis-syetan juga akan bertukar posisi atau pada saat inilah jika ada seorang gadis yang termenung akan mudah kesurupan- dan Doli-doli Malintang dot Sidojadi belum mulak tu bagas karena bermain layang-layang, maka umak nya akan memanggil-manggil sampai akhirnya menjemput sambil tak gendong, dipeluk erat. Seperti ucap Sutan Sati Nasution;
Doli-doli! Ngada dope diboto ho parsaitan…
Saulakon tauken diboto ho do i
Pasomal targan di bagas hasonangan
Mandai tanggungon na tauken ro i….
Layang-layang, adalah sebuah identitas di masa kecil. Mempunyai identitas tersendiri dan catatan pinggir yang mengajarkan kebersamaan, kekompakan dalam persaudaraan. Identitas yang mengalami reinkarnasi jika musimnya tiba, para penghuni hutan semisal bambu-bambu kecil pun seolah-olah berteriak “O Doli-doli , datanglah-datanglah sambutlah senyuman angin yang berpihak pada kalian pada bulan ini, terbangkanlah sayap layang-layangmu setinggi mungkin sebagaimana kau menancapkan cita-citamu”.
***
Layang-layang tak sendirian dalam identitas tersebut. Ada banyak “sahabat” lainnya yang sejenis dengannya, katakanlah semisal; kalereng, tembak koje, mariam bambu, tokok limbat, mobil-mobilan sian bulu, margambar-gambar, manembak cocak, maridi tu aek nagodang, mar epeng-epeng,, marlilin di malam dua puluh pitu Romadhon, maryeye (khusus perempuan), mar sembar, mar gala.
Tatkala layang-layang tak kuat menahan deru-debu angin, putuslah “cintanya”, ia melebur bersama angin dan menuruti kata angin. Timbullah resah hati, muncullah bimbang serta risau yang tak pernah lepas, sang Tuan yang ‘maniak” layang-layang, tak mau di tinggalkan, kau lari- daku kejar, sang Tuan pun akan rela meninggalkan huta, berlari dan tetap berlari sampai dapat, seketika melaju bak taksi seorang supir “penipu” yang membawa kami ke Aston, Februari silam.
Malam pun datang yang wataknya tak sepakat menemani layang-layang bersama bintang. Zaman pun berubah meski dalam raut wajah angin yang sama. Dari belahan dunia lain angin “kencang” datang, dalam bahasa kamus, ia dikenal sebagai globalisasi. Ia tak berbentuk layang-layang, apalagi kalereng. Tapi ia melebihi mereka. Tepatnya untuk hari ini kita sebut dengan globalisasi. Secara perlahan, globalisasi akan merenggut nyawa generasi pemain layang-layang. Akan juga menggerogoti para pemain layang-layang yang notabenenya generasi masa depan kita. Artinya Play Station salah satu wajah globalisasi merupakan sebuah realita yang berbahaya. Yang ada hanya ajaran egoisme, saling menyikut dan menjadikan lupa waktu. Seiring dengan watak kapitalisme yang mengedepankan ajaran individualistik. Evilina “Batak” Daulay seakan juga merasakan getaran yang sama dalam belahan lapangan bola Malintang Julu, ia berkata dalam pesannya ”mereka bermaksud menenggelamkan generasi muslim dalam lautan syahwat & kerusakan moral’.
Apakah kita diam? Bisu? Pura-pura tuli? Atau kita sepakat menganut teori “biarkan”. Mungkin cocok pesan Evilina “Batak” Daulay suatu ketika”menanamkan ketaqwaan……”. Wallahu a’lam
Monday, October 19, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
Bercita-citalah serendah-rendahnya, berbuatlah setinggi-tingginya,