Monday, October 19, 2009

SISI LAIN IMA MADINA

Basyral Hamidi Harahap dalam buku Madina yang Madani mengungkapkan bahwa kelahiran Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal (IMA MADINA) berawal dari kesadaran bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin. Golongan intelektual ini berperan sebagai pendorong demokratisasi seluruh lapisan masyarakat untuk meraih kemajuan. Di bentuk pada tahun 1999 oleh para mahasiswa yang berasal dari daerah Mandailing Natal. Perkembangan organisasi ini mengalami kendala-hari ini pun kebanyakan ormada lain seperti itu-, disebabkan kesibukan pengurus dan anggotanya dalam studi mereka. Namun, pada tanggal 12 Agustus 2002 sejumlah aktivis mahasiswa yang berasal Madina sepakat untuk membentuk IMA MADINA kembali. Kala itu, IMA MADINA mempunyai visi; membina mahasiswa Mandailing Natal untuk lebih kreatif, inovatif, dan kompetitif serta berpartisipasi dalam pembangunan daerah Mandailing Natal. Irwan Hamdani Daulay, selaku Ketua Umum IMA MADINA pada saat itu berkomitmen untuk membuka cabang di seluruh Indonesia, meningkatkan pengabdian masyarakat, menggalang kemitraan dengan Pemda Madina, pengusaha, tokoh masyarakat dan elemen masyarakat lainnya.
Saya akui, pada awalnya tidak berminat masuk IMA MADINA (baca-IMA MADINA Padang) sebab saat itu kebanyakan kegiatannya pada kala itu hanya berkutat pada kumpul-kumpul, ada yang punya misi cari pacar, ada juga yang hanya untuk ikut-ikutan. Hati saya baru terketuk ketika jumpa dengan teman-teman KAMMI Sumbar yang juga kala itu sedang mengurus sebuah organisasi kedaerahan di Pariaman. Program yang mereka tawarkan adalah kerja sama tabloid dengan pemda setempat. Dalam tabloid itu ada seruan untuk pemberantasan narkoba. Seketika itu saya berfikir, kenapa tidak saya usulkan kepada pengurus IMA MADINA Padang untuk membuat hal yang sama. Sebab di lingkungan Remaja Masjid Kota Padang dan BEM IAIN Padang, saya bersama teman-teman sudah beberapa kali menerbitkan bulletin dan tabloid dalam lingkup Kota Padang. Usulan tersebut direspon positif oleh Ketua IMA MADINA Padang kala itu Fadlan Rizki Pulungan.

Demi kejujuran, kita wajib melihat IMA MADINA apa adanya. Irwan Hamdani Daulay dan para senior lainnya telah membesarkan IMA MADINA. Namun, hari ini IMA MADINA (khususnya peran pengurus DPP IMA MADINA) seakan telah kehilangan tongkat sebagai lembaga yang berfungsi membina mahasiswa Mandailing Natal untuk lebih kreatif, inovatif, dan kompetitif serta berpartisipasi dalam pembangunan daerah Mandailing Natal. Rasa kebersamaan dan kekompakan menjadi batu sandung yang tidak mudah di minimalisir. Saya melihat, politisasi terhadap mahasiswa yang sering terjadi bukan pada tataran pembinaan generasi yang lebih berkualitas. Setiap kali saya menjalin komunikasi dengan Ketua Umum DPP IMA MADINA, selalu saja kebanyakan berbicara untuk suksesi tahun 2010. Apa tidak ada topik yang lain seperti meminta pertanggung jawaban para pengusaha kayu di Madina dalam kasus banjir banding di Madina. Inikan jelas-jelas mengingkari posisi mahasiswa tersebut, apalagi visi IMA MADINA.
Saya juga tidak tahu kenapa. Dan ada apa dengan DPP IMA MADINA. Ketika kita mengkomunikasikan bantuan bencana yang di galang DPP IMA MADINA untuk masyarakat Kota Padang,khususnya untuk masyarakat dan mahasiswa yang berasal dari Madina, tidak ada kelanjutan komunikasi yang riil antara DPP dan Pengurus Cabang Padang. DPP IMA MADINA seolah menganggap “anak terbuang” mahasiswa Madina yang ada di Padang dengan mengantarkan bantuan tersebut dengan tidak ada komunkasi dengan pengurus cabang Padang. Hari inipun, sudah 3 hari kita menunggu balasan sms DPP IMA MADINA tentang bagaimana mengatasi secara bersama dimana ada sekitar 50 orang mahasiswa Madina yang berada di Padang, belum jelas status kosnya akibat gempa Sumbar. Kita tidak ingin menghadiahkan “korek kuping raksasa” bagi DPP IMA MADINA, sebagaimana yang dilakukan ICW bagi DPR akhir-akhir ini. Kita hanya berharap ke depan, ada perubahan yang lebih baik. Moga Allah mridhai. Wallahu a’lam bhissawab.

No comments:

Post a Comment

Bercita-citalah serendah-rendahnya, berbuatlah setinggi-tingginya,