Terkejut. Begitulah nadiku bergetar saat mendengarkan khabar dari Negeri Seberang, seorang Ompung bermarga Nasution menanyakan kebenaran peristiwa banjir di Natal. “Mir, apa gerangan yang terjadi di Mandailing Natal. Saya lihat di tv ada berita banjir, bener gak tu, ujar beliau. Spontan saya menjawab, “Yang saya tahu bahwa banjir terjadi pada Agsutus kemarin yang memporak-porandakan beberapa rumah. Nanti kalau dapat berita yang lengkap, saya sms Ompung lagi. “ Iya, email kan aja nanti ya?, kata Ompung.
Ternyata benar setelah dihubungi seorang wartawan di Madina bahwa memang benar terjadi banjir di Muara Batang Gadis pagi dini hari tersebut. Dari informasi yang diberitahukan bahwa ada sekitar 30 rumah yang hanyut, bisa kemungkinan menjadi 40 atau 50 rumah yang memang benar-benar hanyut “di makan air”. Lenyap sudah harapan warga untuk memperoleh kemenangan di hari nan Fitri, pikirku.
Nadiku juga begitu risau tatkala ku terlambat tahu apa yang di bicarakan Ompung di negeri Seberang yang lebih dulu tahu apa yang terjadi di kampong sendiri. Sungguh luar biasa, menurut pandanganku, rasa cintanya pada Mandailing Godang. I LOVE U FULL Madina, mungkin itu yang ada dalam benak Ompung.
Setelah saya dalami ternyata sudah menjadi berita nasional, dimana INILAH.com merilis (15/09) bahwa Banjir bandang melanda 6 desa di Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. 25 Warga dilaporkan hilang dan tewas dalam musibah yang menerjang saat dinihari.
Apa sebenarnya penyebab banjir banding ini, tanyaku pada seorang wartawan yang ada di Panyabungan tadi sore. “Di duga kuat karena praktek Illegal Loging yang di “laksanakan secara diam-diam” oleh seorang pengusaha ternama di Natal, juga di indikasikan ada sangkut pautnya dengan buronan polisi Adelin Lis yang hilang bagai di telan bumi. Sepi tiada khabar dari sang buronan. Inilah salah satu misteri yang harus kita jawab.
Tentu, kita sepakat bahwa ini adalah proses kehidupan. Sebuah proses. Sebagaimana dalam sebuah milis “tetangga” menyebutkan bahwa kehidupan adalah pengulangan peristiwa dengan pemain dan tempat yang berbeda. Lebih lanjut, pertanyaannya, apakah perisitiwa ini menyadarkan kita untuk berbenah atau menganggap bahwa peristiwa yang kita temui merupakan kebetulan, tanpa ada campur tangan Sang Pencipta. Wallahu a’lam bhissawab.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
Bercita-citalah serendah-rendahnya, berbuatlah setinggi-tingginya,