Saturday, October 31, 2009

Menggugat Lapindo Brantas

Akhir-akhir ini bangsa Indonesia sering di timpa bencana. Rentetan bencana besar yang berawal dari tsunami Aceh, kasus gunung Merapi, gempa Pangandaran di Yogyakarta, banjir bandang, dan kekeringan. Terakhir kita dihebohkan dengan kasus lumpur Lapindo Brantas. Pertanyaan mendasar menyikapi fenomena alam tersebut adalah seberapa banyak lagi bencana yang akan kita hadapi? Memang, bencana merupakan kehendak-Nya. Kita juga harus tetap mengingat bahwa bencana hadir karena ulah manusia yang tidak mengerti akan alam.

Belum selesai penanganan lumpur panas Lapindo. Kini lahir lagi “anak lumpur Lapindo”. Adalah meledaknya pipa gas Pertamina dekat semburan lumpur panas, sehingga tanggul utama penahan semburan lumpur panas jebol. Luberan panas itu menenggelamkan akses jalan tol Porong hingga ketinggian 6-7 meter. Akibatnya, korban pun tak terelakkkan. Berita terakhir menyebutkan sebanyak sebelas orang(25/11). Pakar Hukum dari Universitas Air Langga , Dr Suparto Wijoyo S.H mengatakan bahwa ledakan itu semakin menguatkan anggapan bahwa lumpur telah membawa kita ke liang kubur. Atau menurut persepsi penulis dalam konteks kekinian lumpur mempunyai arti yang kira-kira “Lubang menuju pintu kubur” ala Lapindo.

Kekecewaan masyarakat atas bencana ini wajar-wajar saja. Kenapa tidak, lumpur panas tersebut jelas-jelas merusak perekonomian masyarakat. Arus lalu lintas di jalan tol Porong putus total. Belum lagi kerugian atas kerusakan ekosistem makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Ditambah, kekurang cermatan pihak Lapindo dalam menangani ulah mereka sendiri. Ironis memang.

Kekecewaan masyarakat dari kalangan akademis juga patut kita tanggapi. Sebagaimana Dr. Suparto mengemukakan tanggung jawab pertama adalah PT Pertamina sebagai pemilik gas itu atau krimonologi ekologi. Kalau dalam pemeriksaan lanjutan PT Pertamina mampu membuktikan bahwa ledakan itu terjadi akibat lumpur panas PT Lapindo Brantas, maka akan ada tanggung jawab atau tanggung gugat bersama antara Pertamina dengan Lapindo.

Memang, sebaiknya persoalan bencana lumpur Lapindo diselesaikan dengan secepat mungkin. Tidak harus sampai mempertimbangkan siapa yang harus diseret ke pengadilan. Ini bukan soal tawar-menawar mengenai jabatan atau harga diri. Apalagi, kita semua tahu bahwa zaman sekarang adalah reformasi. Hukum harus ditegakkan setegak-tegaknya. Walau dalam realita yang mempermainkan hukum masih kebanyakan orang-orang yang mengerti akan hukum. Kita pun merasakan kekuatan hukum tetap saja tumpul dan dapat diintervensi oleh kekuatan dari luar pengadilan. Hukum masih belum berpihak rakyat yang teraniaya, rakyat miskin. Hukum masih bisa diperjual belikan. Hingga suatu saat seorang sarjana hukum dari UGM berkata “kesia-sian belajar ilmu hukum”. Disinilah letaknya, pihak yang menangani hukum berperan untuk mengubah citra agar kepercayaan masyarakat dapat kembali.

Ketidak seriusan Lapindo

Ledakan pipa gas yang menambah jumlah korban dalam kasus lumpur Lapindo mengisyaratkan ketidakseriusan pihak Lapindo menanganinya.. Sebagaimana dikemukakan dalam harian ini(25/11) bahwa pihak Lapindo sebelumnya sudah diberitahu para pakar dan media massa bahwa kasus lumpur Lapindo bisa mengganggu keberadaan pipa gas. Bahkan, berbagai lembaga kajian geologi dan geofisika sudah memprediksi secara ilmiah bahwa tanah di sekitar semburan lumpur akan ambles. Artinya, wejangan yang berbentuk nasehat dari berbagai pihak sudah masuk ke pihak Lapindo.

Namun, kenyataan berbicara lain. Api pun menjalar tinggi dan pekerja yang berada disekitar itu menjadi korban. Ini membuktikan bahwa pihak Lapindo memang tidak mendengarkan atau pura-pura tuli. Jika pihak Lapindo memang betul –betul memperhatikan masalah ini. Apa yang terjadi beberapa hari ini dapat dieliminalisir dari perbincangan lumpur Lapindo.

Bukan bermaksud untuk menasehati pihak Lapindo, saya tidak punya hak memberi nasehat. Setidaknya, apa yang tertulis disini syukur-syukur didengerin. Di mana pihak Lapindo harus benar-benar serius dalam penanganan kasus ini, mengadakan dialog dengan pakar yang mengerti akan hal-hal yang kemungkinan terjadi. Sehingga kasus seperti ini tidak terulang lagi. Cukup hari ini pihak Lapindo kecolongan oleh penanganan lumpur yang tidak serius.

Namun, ketidakseriusan pihak Lapindo menangani kasus ini bukan berati kita menyepelekannya. Pipa gas itu sepertinya mengisyaratkan kepada kita untuk lebih serius memperhatikan lumpur panas Lapindo yang telah merusak tatanan ekonomi masyarakat Sidoarjo, bencana kemanusiaan dan kerusakan linkungan. Apa lagi, ganti rugi dari pihak Lapindo sampai hari ini belum jelas penyalurannya. Akankah orang miskin semakin miskin akibat ulah manusia yang tidak tahu cara mengertikan alam ini.

Ketidakseriusan pihak Lapindo juga seharusnya menjadi perhatian yang serius bagi petinggi negri ini. Lapindo harus bertanggung jawab atas kasus ini. Maka, sebagaimana halnya jika suatu orang/perseorangan melakukan kriminal. Orang tersebut mau tidak mau harus berhadapan dengan hukum. Apalagi kasus ini adalah tergolong krimonologi ekologi dan kemanusiaan, seperti yang diungkapkan Dr. Suparto. Semua pihak yang terlibat nantinya dalam kasus ini harus ditangani pihak Kepolisian dengan serius dan tidak pandang buluh. Wait and see1(27 Nov 2006)

Kado Yang Tertinggal

Sekian lama sudah dihati terpendam untuk menorehkan goresan-goresan kalbu yang terpancar dalam rentetan kalimat ini. Jujur, perjalanan melelahkan selama tiga hari Padang-Medan pulang pergi hanya untuk menyambut keluarga yang berpulang dari tanah suci pada tanggal tanggal 6-9 Januari lalu menyisakan hal-hal yang urgen untuk saya perhatikan. Ada hal menarik yang dapat saya petik tatkala kebiasaan saya ketika pulang selalau mencari Harian Waspada. Sesampai di terminal Amplas berujung ke terminal pusat ALS saya tetap berusaha mencari harian terkemuka kelima Nasional menurut perhitungan suatu lembaga beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah, saya masih bisa mengobati hausnya mata ini untuk membaca. Lantas tanpa banyak bertanya, saya suguhkan uang dua ribuan kepada gadis yang sedang sibuk melayani raja-rajanya (pembeli-red). Tertulis angka 60 bercetak tebal biru di sudut kanan harian yang saya pegang. Saya berpikir ini menandakan usia perjalanannya sudah bukan lagi masa yang muda melainkan rentang waktu yang penuh kelelahan dan keberanian dalam menegakkan kebenaran dan keadilan Dan khabarnya, harian ini juga telah meluncurkan buku yang berjudul “Berita Peristiwa 60 Tahun Waspada”.

Frof. Bactiar Hassan Miraza dalam artikelnya (9/1) telah banyak menyingkap sejarah perjalanan Waspada serta kontribusi nyata sudah banyak dirasakan masyarakat. Sedikit saya ambil pernyataan beliau,”Bertahannya pelanggan pada harian waspada adalah indikator harian ini telah mampu memenuhi kepuasan pelanggannya. Sifat bertahan ini hendaknya berdasarkan kekuatan pasar (freemarket) bukan pasar yang dikomandoi secara etnis maupun politis dan tekanan”. Hingga menurut saya apa yang dipaparkan beliau dalam pandangan saya merupakan Kado yang Terindah bagi Waspada di usia ke 60 ini.

Mewaspadai dead-line

Saya tidak menyangka di bulan-bulan terakhir saya di MAN Sibuhuan, tahun pelajaran 2004/2005 lalu. Seorang guru saya lulusan USU memberikan saya amanah untuk memegang pundak perjalanan Majalah Dinding OSIS untuk terbit pertama kalinya, mulanya saya agak ragu. Namun setelah saya pikir dalam-dalam, ditambah hobi saya membaca dan mengola informasi yang continioue saya terima dari harian ini setiap sore hari. Maklum, jujur baru sore hari saya bisa membaca harian Waspada karena jarak kota Medan dengan Sibuhuan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Wajar, Hassan Miraza bersyukur bisa membaca Waspada sebelum pukul enam pagi karena beliau ada di Kota Medan, saya juga kala itu sangat bersyukur bisa membaca Waspada sebelum pukul enam magrib. Bukankah masing-masing kami masih berputar di sekitar jam enam, satu hari itu juga. Walau kokok ayam sudah agak berbeda dari subuh hingga maghrib.

Kembali pada Majalah Dinding tersebut. Edisi mingguan majalah dinding tersebut saya usahakan agar tidak terlambat. Antusias rekan-rekan siswa juga begitu tinggi. Hingga pada akhirnya saya dan tim redaksi begitu kewalahan memilih karya mana yang harus di terbitkan. Khusus artikel utama atau kolom depan, belum banyak yang menorehkan karyanya untuk kolom ini. Disinilah peran Waspada, yang sangat membantu saya saat itu ketika dead-line mading tersebut tinggal satu malam lagi. Habislah malam saya sampai pukul sebelas malam hanya bertemankan sebuah mesin ketik tua dari kantor tata usaha dan harian Waspada yang saya kumpulkan artikel-artikelnya telah terselip dalam tas. Dan tak jarang mesin ketik tua tersebut harus hijrah dari sekolah menuju rumah, paginya saya bawa lagi saat hendak berangkat sekolah karena saya tidak tega melihat kolom-kolom majalah dinding tersebut bolong-bolong.

Rupanya, waktu membawaku lepas dari sekolah menuju bangku kuliah. Artikel-artikel tersebut tetap ku simpan kedalam tas hingga hari ini. Alhamdulillah masih utuh hingga hari ini walau sedikit demi sedikit kecolongan oleh Poli-Tikus, makna poli-tikus disini saya sandarkan pada artikel DR. Ir. Satia Negara Lubis, Mec, Waspada (19/12’06) lalu. Dilain sudut, hati saya terasa pilu dan sedih mendengar pemaparan adik kelas saya yang saya jumpai ketika dia melanjutkan kuliahnya setahun kemudian ke Ranah Minang juga, sebagaimana tempat saya juga menimba ilmu. Kenapa tidak, kado yang ingin saya berikan pada ulang tahun pertama mading OSIS tersebut (21 Februari 2005) harus saya simpan dalam nadi-nadiku. Katanya, mading tersebut sudah dimuseumkan di belakang gedung sekolah karena tatkala itu ia rubuh disebabkan santunnya kaki orang yang bermain bola di lapangan hijau sekolah. Yang saya sesalkan, dari sekian banyak kaum pendidik yang bertitel sarjana dari guru-guru saya. Apa tidak ada yang mau berjalan di jalan Allah untuk Fastabiqul khoirot dalam dakwah bil kalam. Ironis memang. Dan saya akui, juga merupakan kesalahan person saya karena tidak menanamkan pengkaderan yang efektif buat regenerasi redaksi mading tersebut.

Kado yang tertinggal

Khazanah pemikiran terkini membutuhkan pemahaman dari berbagai aspek, tak cukup kita memandang dari satu sisi bidang ilmu, dari satu kelompok masyarakat. Begitu juga dengan keberadaan 60 tahun Waspada yang telah begitu setia menemani kaum cendikiawan, birokrat, pengusaha, mahasiswa, pelajar apalagi masyarakat Sumatera Utara pada umumnya. Sejauh perkembangan kedewasaan hari ini. Mengingat keintelektualan generasi muda cendekiawan (mahasiswa-red) membutuhkan sarana yang efektif untuk pengembangan kepribadian, menyikapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks di tengah globalisasi, sekaligus menyuarakan hati nurani cendikiawan muda tersebut dan predikatnya sebagai Agent of Change . Apalagi, kita semua tahu pada historis negeri ini dimana negeri tetangga yang hijrah ke tanah kita untuk mencari ilmu. Sekarang kita yang ramai-ramai pindah ke negeri jiran tersebut karena di negeri sendiri tidak dihargai. Misalnya, seorang guru lebih bermartabat di negeri jiran tersebut dari pada di bumi nusantara ini.

Memang hak preogratif ada pada pimpinan redaksi beserta jajarannya untuk menentukan rubrik pada harian ini. Siapalah saya, hanya seorang mahasiswa yang haus akan ilmu kepenulisan, dahaga akan pemikiran-pemikiran yang tidak membuat orang bingung apalagi murtad serta merindukan cendikiawan muda Sumatera Utara kembali menancapkan taringnya di kancah dunia intelektual terkini. Bukankah cendikiawan Andi Hakim Nasution pernah menorehkan karyanya di kancah intelektual masa lalu, dari sekian banyak cendikiawan dari pulau paling utara di Sumatera ini. Disinilah, saya harapkan peranan harian waspada dalam melahirkan cendikiawan muda Sumatera Utara yang berani mengeluarkan ide-iede cemerlangnya melalui harian ini. Tentunya, pimpinan redaksi serta staf redaksi dengan tulus hati memberikan satu ruang intelektual bagi mahasiswa sebagaimana fungsinya seperti yang telah saya kemukakan di atas. Bentuknya bisa seperiti suara Mahasiswa pada salah satu surat kabar harian Nasional. Hingga pada akhirnya juga semua berpulang kepada Harian Waspada yang menjadi promotor informasi terbesar di Sumatera Utara.

Pesta ulang tahun Waspada di usia yang ke 60 tahun ini telah berlalu. Semoga menjadikan Waspada lebih berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Mengumpulkan benang-benang permasalahan yang terserak secara cepat dan aktual. Saya kutip kalimat terakhir ini dari salah satu kumpulan puisi Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berjudul ‘Mahligai Cinta” yang berbunyi; “Anak-anakku, kau bangun mahligai cinta. Di taman kehidupanmu yang teduh hari ini, kembang masih tengah mekar di hatimu…., Perjalananmu panjang, anakku dan tak miskin rintangan serta godaan. Namun, layar telah kau kembangkan. Jangan surut dan tertinggal buritan. Satukan jiwamu, jemput masa depanmu, di tanah kemangan abadi dalam keberkahan Tuhan” . Sebagai kado yang tertinggal dalam harian ini untuk Waspada yang tercinta. Jayalah negeriku, Waspadalah bangsaku. Walllahu ‘alam bisshawab.(12 Jan 2007)

Saturday, October 24, 2009

HARI YANG CERAH

( Sebuah Catatan menuju RIUA KOTA PADANG)

Pagi hari yang mendung dan dingin. Terlihat matahari memancarkan sinarnya dengan tajam, tangkas dan membakar jiwa-jiwa yang tenang. Seuntai memori melintas dan berkata di hari yang cerah ini, bulan ini, tanggal belasan, ada sebuah catatan kecil tiba-tiba terbuka hasil perbincangan saya, dan Akhi Rafli Darman dengan H. Muhammad Rafles, warga Palinggam yang mempunyai prinsip hidup “AhlullQur’an’ dalam satu hari yang cerah di sebuah tepi jalan penghujung Khatib Sulaiman. Bilangan usia yang kami perbincangkan mengenai RIUA, layaknya sama seperti seperti ayah dan anak. Menatap masa depan yang akan sangat menentukan Generasi Islam. Memikirkan jalan-jalan menuju syahid-Nya.

Apa yang membedakan hari ini dengan hari yang lain? Yang membedakannya adalah sebuah sikap pengorbanan. Semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula pengorbanan yang ia berikan untuk sang kekasihnya atau sesuatu yang dicintainya itu. Hal inilah kiranya yang membuat beliau bersedia menjadi Penasehat Riua Kota Padang yang Insya Allah akan dikukuhkan pada Minggu(15/7) di Masjid Raya Pasa Gadang.

Berbicara soal pengorbanan, bagi kecintaan memang sangat di butuhkan dalam kancah dakwah. Lihat, apa yang dilakukan Abu Bakar Shiddiq untuk membela yang paling dicintainya yakni Rasulullah saw dan dakwah. Saat genting-gentingnya situasi menjelang hijrah Rasulullah saw. ke Madinah, Abu Bakar –semoga Allah meridhoinya- tampil dengan segala pengorbanan untuk menyelamatkan dakwah. Ia pasang badan untuk menjadi tameng Rasulullah saw. dari segala kemungkinan buruk yang direncanakan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ia korbankan pula hartanya. Bahkan ia kerahkan anggota keluarganya untuk turut berkontribusi bagi dakwah. Apa yang beliau lakukan itu sesuai benar dengan ungkapannya sendiri, “Hal yanqushud-dinu wa ana hayyun” (Tidak boleh Islam berkurang sementara saya masih hidup).

Kepada orang seperti itulah pujian Allah swt ditujukan: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. 9:111)
Dan semangat itu pula yang ingin ditumbuhkan kembali oleh Ustadz Hasan Al-Banna ke dalam jiwa para da’i, sebagaimana tercantum dalam risalah “Ilaa Ayyi Syai-in Nad’un-Nas” (Ke mana Kita Mengajak Manusia?). Pesan itu menegaskan: jika kita ingin menempa umat, membuat mereka bangkit untuk mencapai cita-cita mereka, yaitu kejayaan dan kemenangan, maka kita harus memiliki quwwatun nafsiyyah (kekuatan jiwa). Dan kekuatan jiwa, menurut pendiri Jama’ah Ikhwanul Muslimin itu tercermin pada empat hal yang salah satunya adalah pengorbanan.

Meski demikian, keempat hal ini saling berjalin berkelindan, hingga satu sama sama lain tidak dapat dipisahkan, yakni:
1.Motivasi kuat yang tidak terjangkiti keloyoan.
Modal dasar pengorbanan adalah kekuatan motivasi. Ia juga merupakan syarat mutlak bagi perjuangan untuk kebangkitan dan kejayaan umat. Allah tidak akan menurunkan kemenangan kepada bangsa yang bermental kalah. Surga pun hanya akan menjadi milik orang yang memiliki kekuatan motivasi: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. As-Shaf / 61: 10-13)

Saat kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan Quraisy dalam perang Badar, Rasulullah saw. mengatakan kepada para sahabat, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Demi mendengar kalimat itu, ‘Umair bergumam, “surga seluas langit dan bumi? Wah, wah!” Mendengar itu Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang membuatmu mengucapkan kata itu?” ‘Umair menjawab, “Tidak apa-apa, saya cuma ingin termasuk penghuninya.” Rasulullah saw. menjawab, “Ya kamu termasuk penghuninya.”
‘Umair yang tengah memakan kurma pun lantas berkata, “Sungguh terlalu lama bila saya harus menunggu habisnya kurma ini.” Maka ia pun meletakkan kurma-kurma di tangannnya lalu menyeruak masuk ke tengah barisan musuh untuk bertarung hingga mati syahid. (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)

2.Kesetiaan yang tangguh yang tidak dihinggapi kepura-puraan dan pengkhianatan.
Kekuatan pengorbanan tidak hanya diukur dengan pengorbanan fisik dan material. Kesetiaan, kesabaran dan konsistensi dalam memperjuangkan kebenaran juga merupakan wujud pengorbanan. “Dan orang-orang yang sabar dalam rangka mengharap wajah Tuhan mereka dan mendirikan shalat serta menginfakkan sebagian yang Kami rizkikan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka itulah tempat tinggal akhir yang baik.” (Ar-Ra’d 22)

Kualitas pengorbanan seseorang tidak diukur oleh semangat semata-mata namun juga oleh wafa tsabit (kesetiaan yang tangguh). Sejarah merekam orang-orang yang memiliki wafa tsabit itu bahkan dalam kondisi yang paling menyakitkan dalam hidupnya, hingga bumi yang luas ini dirasakan sempit olehnya.

3.Pengorbanan agung yang tidak terganjal oleh ketamakan dan kekikiran.
Pemuliaan itu adalah pengorbanan. Ini pula yang disampaikan Rasulullah saw kepada seorang sahabat bernama Basyir Bin Al-Khashashiyyah. Ia datang kepada Rasulullah saw. untuk berbai’at atas Islam. Rasulullah saw. mensyaratkan kepadanya untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya; melaksanakan shalat lima waktu; berpuasa di bulan Ramadhan; mengeluarkan zakat; menunaikan haji; dan berjihad di jalan Allah. mendengar itu semua, Basyir menyahut, “Ya Rasulullah, yang dua hal (terakhir itu), saya tidak mampu. Tentang zakat, saya tidak punya harta selain sepuluh ekor unta. Dan itu adalah andalan dan kendaraan keluarga saya. Sedangkan tentang jihad, saya dengar orang-orang mengatakan bahwa siapa yang lari dari medan jihad maka ia akan mendapatkan murka Allah. Dan saya memang orang yang penakut.” Mendengar itu Rasulullah menarik kembali tangannya kemudian menggerak-gerakkannya seraya mengatakan, “Wahai Basyir, tanpa shadaqah dan tanpa jihad? Lalu dengan apa kamu akan masuk surga?” Basyir akhirnya menjawab, “Jika demikian, saya berbai’at untuk semua itu.” (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al- Baihaqi, dan lain-lain)

4.Memahami, meyakini, dan menghargai prinsip.

Ada banyak kasus soal kelunturan dan pencairan idealisme. Begitu pula semangat mengebu-gebu dan pengorbanan yang ternyata hanya bertahan semusim saja. Salah satu penyebabnya karena semangat dan pengorbanan itu tidak disertai dengan pemahaman, melainkan muncul hanya kerena terkompori lingkungan atau oleh situasi yang menghimpit atau karena hanya sekedar memperhartikan. Akibatnya semangat tersebut tidak mengakar dan hanya menjadi letupan-letupan emosi yang bersifat sementara dan tidak konsisten.

Oleh karena itu, perjuangan dan pengorbanan harus berangkat dari pemahaman terhadap segala sisi Islam. Dengan kata lain pemahaman ini harus bersifat syamil (integral dan komprehensip).

Pemahaman akan Generasi Islam inilah yang menghasilkan beberapa pemikiran akan pentingnya dakwah remaja ini. Hingga, seorang yang bernama lengkap H. Rafles bersedia mengeluarkan pemikirannnya. Ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian bersama dalam pemaparan pemikiran beliau tentang RIUA Kota Padang di tengah arus glonalisasi. Pertama, RIUA diharapkan nantinya bisa mempertahankan budaya yang berfilsafat ”Adat Basyandi Syara’, Syara; Basandi Kitabullah kuhusnya di kalangan generasi Muda Islam. Dalam artian, membuat gerakan inovatif tentang kemajuan generasi Islam. Juga, mampu merubah sikap dan mengajak keluarga agar lebih paham akan agama. Kedua, RIUA yang kokoh dan tangguh. Dalam artian, mempunyai sendi perekomomian yang tetap dan abadi, mengkokohkan kehadiran Buletin Ulul Albab setiap minggu, mampu membuat terobosan-terobosan lainnya. Ketiga, RIUA di harapkan agar lebih mampu menggalang kebersamaan di antara generasi muda Islam yang ada di Kota Padang khususnya.

Maka memahami Islam secara murni seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw akan lebih matang walupun segala badai ujian justeru datang, justru menambah kokoh dan kuatnya iman dan sebuah pengorbanan. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) bagaikan pohon yang baik. Akarnya menghujam bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin Tuhannya.” (Ibrahim 25).

Wahai jiwa-jiwa yang tenang, ketahuilah para pengemban amanah RIUA Kota Padang dan pendukungnya,” Kita terlahir untuk memikirkan, menyelamatkan dan menyambut kemenangan Islam dengan mengorbankan harta, kelamnya energi juga jiwa”. Selamat Milad dan Menuju RIUA Kota Padang.(Buletin Ulul Albab EDISI 24 TH. I JULI 2007/ JUMADIL AKHIR 1428 H)

PELAYAN diantara PENGUASA

Jika memang benar nantinya aplikasi dari paradigma baru “Rektor adalah Pelayan” yang sedang dibangun rektor baru IAIN Frop. Sirajuddin Zar kita semua patut memberikan applaus. Frop. Sirajuddin Zar mengatakan ” Rektor, Biro, Pembantu Dekan, Kabag, Kasubag dan dosen adalah pelayan”* Pelayan yang membantu kita semua untuk menuju cita–cita bersama. Pelayan yang dengan senang hati menerima keluhan-keluhan. Pelayan yang siap merangkul ketika kedinginan. Namun, tak semudah itu menjadi pelayan seperti yang di sebutkan beliau, jika nantinya tersandung oleh niat yang apabila awalnya untuk mencari prestise atau sekadar live service. Kita berharap tidak demikian.

Satu pertanyaan radikal yang patut kita renungkan secara teratur dalam keintelektualan hari ini adalah sanggupkah Frop. Sirajuddin Zar merubah setiap penguasa di kampus Islami ini menjadi pelayan. Setelah sekian lama mereka-mereka memproklamirkan dirinya sebagai penguasa yang berbuat semena-mena.

Penguasa itu berjubahkan jabatan yang sering duduk di bawah ruangan ber-AC dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang membingungkan warga kampus. Kebijakan yang selalu menyepelekan kehadiran si penerima kebijakan. Apa salahnya, di buat sistem komunikasi efektif agar tidak terjadi kejadian-kejadian yang akhirnya di keluhkan penguasa pembuat kebijakan.

Penguasa itu bernama seorang Guru fropessional yang selalu berprinsip semau gue. Jika mahasiswa terlambat sedikit karena ada urusan penting, tak ada lagi kata maaf, di anggap tidak hadir. Namun, ketika Sang Guru fropessional berbuat demikian, ia cukup berkata I’ Sorry, I come late. Bahkan, ada Seorang Guru fropessional yang hanya tempel nama di daftar dosen mata kuliah dalam sebuah ruangan intelektual, entah di mana rimbanya. Wajahnya yang mungkin tampan dan gagah, hanya menjadi perbincangan mingguan di antara rekan-rekan yang sudah “merindukan” kehadiran beliau.

Penguasa itu bernama Seorang Guru fropessional yang selalu dan selalu berharap pada mahasiswa, pelepas dahaga khususnya. Realita menyedihkan ini ada ketika Anda melihat ke setiap ruang intelektual pasti ada bekas tempat H20 yang rata-rata berwarna hijau muda. Hal itu sah-sah saja jika mahasiswa memberikan pelepas dahaga tersebut secara ikhlas. Namun, akan menjadi lain ketika Seorang Guru fropessional berkomentar seperti ini, “ Apa tidak ada (…...) untuk saya hari ini?”.

Karena, keharusan adanya kebutuhan pelepas dahaga tersebut belum pernah tercantum dalam konstitusi atau peraturan di kampus ini. Belum pernah ada satupun kebijakan pihak fakultas atau rektorat yang mewajibkan itu. Sejauh perbincangan saya dengan berbagai pihakpun, belum pernah ada satu orang yang mengakui bahwa itu adalah yang di haruskan. Bahkan, Drs, Sueb Karseno sewaktu kuliah dengan saya pada semester pertama pernah berujar.” Saya tidak tega meminum itu, itu adalah uang tua kamu. Itu kezhaliman bagi saya."

Kata mereka, itu ada karena kebiasaan. Tak jelas asbabun nuzzulnya. Jika kita di kaji hal lain yang akibat kebiasaan tersebut. Mungkin kita bisa membuat panti asuhan bagi para dhuafa yang sering berkunjung ke kampus Islami ini atau kita bisa menyewa cleaning service yang berkompeten untuk membersihkan WC yang ada di tiap gedung kampus Islami ini.

Penguasa itu bernama mereka-mereka yang bergelar agent of change yang tangannya terlalu ramah mengepal lalu mendarat di wajah orang lain. Semua tahu bahwa mereka adalah “orang-orang pilihan” yang siap menjadi bintang Smack down. Tapi, bukan disini tempatnya. Penguasa itu bernama makhluk yang bergelar Agent of change yang memegang sebuah UKM. Berprilaku otoriter layaknya Fir’aun zaman komtemporer, berpikiran terlalu egoisme, mengangkat dan mencopot sebuah kepanitiaan dengan semena-mena. Menafikan musyawarah, melecehkan demokrasi dan menginjak-injak rasa keadilan.

Saya yakin, Frop. Sirajuddin Zar mempunyai keahlian untuk menjinakkan para penguasa tersebut lalu merubahnya menjadi pelayan seperti yang di harapkan beliau dan siap membawa kita bersama menuju Kampus Islami, Berkarya Islami Wallahu a’lam bhissawab

MENGEMBALIKAN SEMANGAT PERJUANGAN GENERASI ISLAM”


Oleh;Amir Hamdani Nasution, Pimred Ulul Albab Kota Padang

Pohon itu tumbuh kembali. Setelah sekian lama layu, tak tahu ada apa gerangan. Kini, rantingnya belum begitu kokoh. Tapi, perlahan-lahan akarnya sudah menghujam bumi. Mengikat dalam-dalam, menyusup diantara bebatuan. Merambat pelan, masih di permukaan tanah. Begitu angin bergoyang kuat, dia bisa luruh, bila tak memiliki keistiqomahan untuk bertahan. Bila tak ada rasa kesungguhan untuk tetap ada. Remaja Islam Ulul Albab tengah jadi pohon baru itu. (Edisi perdana Buletin Ulul Albab, 19 Juli 2006).

Rangkaian kata di atas menyisakan seribu kegelisahan serta berjuta keoptimisan memandang masa depan generasi muda Islam. Dalam perjalanannya, RIUA memiliki gerakan Intelektual sebagai ciri khas keberadaannya. Pola ini tidak hadir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil pergulatan pemikiran para Founding Father RIUA. Hingga, ia berusaha bersikap polos dan lembut dan lebih dewasa walau raga person RIUA kebanyakan remaja. Berusaha memahami prilaku orang-orang yang masih kurang paham akan penting danm gentingnya jalan-jalan menuju Ridha-Nya. Selalu mendo’akan agar sebagian hamba Allah yang lain agar mereka dapat bergandengan tangan yang lebih kuat menuju Cinta-Nya.

Kematangan perjalanan RIUA dalam ruang waktu yang telah di lalui masih perlu di koreksi secara mendalam. Menjadi inspirasi besar dalam perjuangan dakwah generasi muda. Maka, Milad 1 Tahun RIUA untuk pertama kalinya di gelar bukanlah sebuah seremonial belaka, bukan juga untuk “berwah..-wah..”. Melainkan, “Mengembalikan Semangat Perjuangan Generasi Islam” Juga, yang tak kalah pentingnya adalah membuat terobosan Intelektual kepada masyarakat Kota Padang Tercinta dengan melaunching “Forum Pena Remaja Islam Kota Padang”. Yang tujuan utamanya adalah menerbitkan sebuah media Islami bagi kaum Muslimin Kota Padang Tercinta, diterbitkan oleh remaja Islam jangkuan dakwah yang besar. Jujur, Umat Islam masih seperti ini, salah satunya karena kekalahan dalam pengembangan opini Islam (media).

Mewujudkan sistem lembaga generasi muda Islam yang baik

Apa yang telah di lalui RIUA dalam perjalanannya selama setahun ini, adalah merupakan kesinambungan sejarah dari perjuangan Rasululllah. Juga, hasil perjuangan para pejuang Minangkabau, seperti Buya Hamka, M. Natsir, Tuanku Imam Bonjol, Rohana Kudus dan sederetan nama lainnya. Semangat perjuangan RIUA membawa misi yang sama dari kesinambungan sejarah bangsa ini. Perbedaan kehadiran waktu terlahir kedunia ini merupakan Sunnatullah yang tidak dapat di ganggu gugat oleh siapapun. Ruh jiwa-jiwa yang tenang itulah yang selalu membawa kaki berlari dan terus berlari menuju Ridha-Nya. Ada sebuah kekuatan cinta yang di bumbuhi rindu mendalam. .

Adalah merupakan sunnatullah bahwa tahapan dakwah generasi muda ini akan melalui medan yang genting, penuh kegalauan hati,penuh tantangan. Dimana dalam arena genting ini merupakan tahapan yang strategis untuk melakukan kemaslahatan bagi orang banyak, baik yang muslim maupun yang non muslim, sehingga Islam sebagai rahmatan lil alamin bukan sekedar angan-angan bagi umat manusia melainkan menjadi bukti nyata yang dapat dirasakan oleh seluruh alam.
Untuk mencapai serta mewujudkan cita-cita yang besar ini tentunya diperlukan kerja yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan yang dilakukan oleh generasi muda Islam disegala bidang kehidupan manusia termasuk dalam pengembangan opini.

Dimana telah kita ketahui bersama bahwa dakwah dalam bidang apapun, Islam seakan-akan ketinggalan tidak mempunyai nilai yang sangat strategis untuk melakukan perubahan yang mengarah kepada kebaikan kehidupan manusia. Padahal kita adalah umat yang terbaik. Kalangan generasi muda menyadari bahwa agar tercapainya cita-cita generasi Muda Islam yang baik, sangat tergantung sejauh mana ia mampu mewujudkan 2 (dua) hal, yaitu : terwujudnya sebuah sistem lembaga yang baik dan terwujudnya keshalihan setiap pribadi generasi tersebut.

Mengingat generasi muda adaah tulang punggung bangsa dan umat ini , maka Imam Syafii berkata: " Barangsiapa pada waktu mudanya tidak melakukan dakwah, maka hendaklah di takbirkan empat kali karena ia telah wafat. Dan hakikat seorag pemuda-demi Allah SWT-hanya dengan kelimuan dan ketaqwaan. Maka apabila ia tidak memiliki keduanya, janganlah kamu anggap sebagai pemuda.” Kenyataan yang kita hadapi adalah bahwa amal dari kalangan generasi muda kebanyakan sangat menyedihkan. Tak tanggung-tanggung banyak dari keluarga kita yang memilih jalan yang bukan menuju jalan keselamatan Islam.

Untuk mencapai dan mewujudkan generasi Islam yang baik, kita harus mulai dari sekarang. Mulailah untuk merapatkan shaf (barisan), meluruskan niat, mempersiapkan aspek psikologis para generasi muda untuk kemenangan Islam. Usaha ini tidak akan pernah terlepas dari ujian Allah (sunnatullah) baik itu berupa ketidak pahaman, kekecewaan bahkan sebuah kemarahan yang tidak wajar.

Namun ketahuilah para generasi muda dan para pendukungya, bahwa sesungguhnya kemenangan hakiki adalah ketika amal yang kita lakukan bernilai disisi Allah SWT (mendapat ridha Allah SWT) dan keyakinan seorang muslim bahwa Islam pasti menang, apakah dengan mendapatkan kehidupan yang mulia atau menemui kesyahidan di jalan-Nya.

Mewujudkan atau membentuk keshalihan individu
Ketika sistem sebuah lembaga generasi muda (dalam hal ini Remaja Masjid) telah terwujud tentunya diperlukan individu-individu atau masyarakat yang siap melaksanakan kebijakan-kebijakan program yang dihasilkan.

Sehingga pembentukkan keshalihan individu merupakan sebuah keharusan. Dua hal ini ibarat dua sisi mata uang, artinya kita tidak bisa meninggalkan satu sisi atau mewujudkan hanya sisi yang lain.
Bagaimana mungkin kita hanya mewujudkan sistem yang baik tanpa membentuk pribadi-pribadi yang siap melaksanakan kebijakan tersebut, bagaimana mungkin sebuah acara di angkat tanpa ada kesiapan yan matang.

Tentunya dari pembentukkan pribadi-pribadi yang islami ini diharapkan akan munculnya nantinya keluarga-keluarga yang islami, yang secara langsung akan membentuk masyarakat Islami, yang tetap konsisten akan mewujudkan kemenangan Islam. Jikalau kondisi ini dapat diwujudkan maka Insya Allah kita termasuk ummat yang dijanjikan oleh Allah SWT dalam Alquran surat Ali Imran ayat 110 : " Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Wallahu a’lam (Sebuah Metamorfosis dari Pemikiran para Pakar)

Monday, October 19, 2009

PENJAJAHAN TERHADAP GENERASI MANDAILING

Lapangan Bola Malintang Julu. Kata yang memang asing dalam konteks kekinian Indonesian, apalagi belum ada semacam sejarah yang tertoreh dan patut diperhitungkan untuk menjadi sebuah “sejarah”. Hanya, disini makhluk yang bernama manusia bisa melihat jejeran Bukit Barisan yang membentang dan memuncak “setengah hati”. Dari sini jugalah terpampang dengan jelas sebuah gunung kelihatan gundul dan meresahkan hati. Kenapa tidak, menurut cerita Ompung-ompung bahwa disana terdapat sebuah”sisa” masa lalu. Masa Belanda tepatnya. Di Gunung ini pernah seorang ibu melahirkan bayi, konon ceritanya anak itu dibuang disebabkan tidak sanggup membawanya dalam kejar-kejaraan para penjajah Belanda. Hari ini, adalah anak-anak gunung tersebut memang sudah gundul disebabkan penebangan liar, kabarnya ada sebuah danau di sana, mungkin itulah salah satu penyebab banjir bandang beberapa tahun silam yang menghancurkan ratusan rumah di daerah Malintang, dan Muara Batang Gadis. Ibarat bungo layu ditangkai…demikian lantunan pop Jambi.
Hijaunya rumput lapangan bola menjadi saksi tatkala adzan maghrib bergema dari tengah-tengah kampung, menandakan waktu shalat telah tiba- para jin-iblis-syetan juga akan bertukar posisi atau pada saat inilah jika ada seorang gadis yang termenung akan mudah kesurupan- dan Doli-doli Malintang dot Sidojadi belum mulak tu bagas karena bermain layang-layang, maka umak nya akan memanggil-manggil sampai akhirnya menjemput sambil tak gendong, dipeluk erat. Seperti ucap Sutan Sati Nasution;

Doli-doli! Ngada dope diboto ho parsaitan…
Saulakon tauken diboto ho do i
Pasomal targan di bagas hasonangan
Mandai tanggungon na tauken ro i….

Layang-layang, adalah sebuah identitas di masa kecil. Mempunyai identitas tersendiri dan catatan pinggir yang mengajarkan kebersamaan, kekompakan dalam persaudaraan. Identitas yang mengalami reinkarnasi jika musimnya tiba, para penghuni hutan semisal bambu-bambu kecil pun seolah-olah berteriak “O Doli-doli , datanglah-datanglah sambutlah senyuman angin yang berpihak pada kalian pada bulan ini, terbangkanlah sayap layang-layangmu setinggi mungkin sebagaimana kau menancapkan cita-citamu”.
***
Layang-layang tak sendirian dalam identitas tersebut. Ada banyak “sahabat” lainnya yang sejenis dengannya, katakanlah semisal; kalereng, tembak koje, mariam bambu, tokok limbat, mobil-mobilan sian bulu, margambar-gambar, manembak cocak, maridi tu aek nagodang, mar epeng-epeng,, marlilin di malam dua puluh pitu Romadhon, maryeye (khusus perempuan), mar sembar, mar gala.
Tatkala layang-layang tak kuat menahan deru-debu angin, putuslah “cintanya”, ia melebur bersama angin dan menuruti kata angin. Timbullah resah hati, muncullah bimbang serta risau yang tak pernah lepas, sang Tuan yang ‘maniak” layang-layang, tak mau di tinggalkan, kau lari- daku kejar, sang Tuan pun akan rela meninggalkan huta, berlari dan tetap berlari sampai dapat, seketika melaju bak taksi seorang supir “penipu” yang membawa kami ke Aston, Februari silam.
Malam pun datang yang wataknya tak sepakat menemani layang-layang bersama bintang. Zaman pun berubah meski dalam raut wajah angin yang sama. Dari belahan dunia lain angin “kencang” datang, dalam bahasa kamus, ia dikenal sebagai globalisasi. Ia tak berbentuk layang-layang, apalagi kalereng. Tapi ia melebihi mereka. Tepatnya untuk hari ini kita sebut dengan globalisasi. Secara perlahan, globalisasi akan merenggut nyawa generasi pemain layang-layang. Akan juga menggerogoti para pemain layang-layang yang notabenenya generasi masa depan kita. Artinya Play Station salah satu wajah globalisasi merupakan sebuah realita yang berbahaya. Yang ada hanya ajaran egoisme, saling menyikut dan menjadikan lupa waktu. Seiring dengan watak kapitalisme yang mengedepankan ajaran individualistik. Evilina “Batak” Daulay seakan juga merasakan getaran yang sama dalam belahan lapangan bola Malintang Julu, ia berkata dalam pesannya ”mereka bermaksud menenggelamkan generasi muslim dalam lautan syahwat & kerusakan moral’.
Apakah kita diam? Bisu? Pura-pura tuli? Atau kita sepakat menganut teori “biarkan”. Mungkin cocok pesan Evilina “Batak” Daulay suatu ketika”menanamkan ketaqwaan……”. Wallahu a’lam

RUMAH TUA DI TENGAH HUTAN LINDUNG

Kadang saya berfikir, misteri apa lagi yang akan terjadi dalam hidup kita nii. Amanat apa gerangan pada tulisan tangan yang kutemukan dalam lemari tua, di sebuah rumah tua yang telah ditinggalkan “Tokoh Pembangunan Keluarga (kenapa harus Bapak Pembangunan Indonesia saja yang ada) beserta istrinya” 9 tahun silam, untuk selama-lamanya juga. Ketika hari ini “umat berada dalam di tepi jurang kehancuran” ujar Sayyib Quthub suatu saat dalam tulisannya. Ketika hari ini”Yudhistira, seorang penjudi yang gagal, sadar: ketika ia memilih, ia ibarat melempar dadu. Tiap lemparan adalah pengakuan bahwa hidup adalah kecamuk kebetul an-kebetulan. Tak jelas alasannya. Tak jelas arahnya. Absurd” begitulah penceritaan Goenawan Muhammad dalam Catatan Pinggirnya. Dan hari ini “Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali 3 golongan; orang yang beriman, orang yang beramal soleh, orang yang menasehati dalam kebenaran” begitu tertera dalam pesan singkat seorang sahabat dalam suasana hujan malam kelam ini.
Pastinya. Yang begitu cemerlang dalam ingatan, sewaktu kecil tatkala mata ini sakit-beliaulah yang mengobati dengan menghembus mata beberapa kali dalam seminggu ,suara yang tegas ketika ada teman-teman sekampung yang mengganggu binatang piaraannya disebelah rumah tua itu. Di hari kepergiannya menghadap Ilahi saya sedang dalam menghadapi lomba adzan di sekolah Ibtidaiyah kelas 2, sungguh begitu tersayat nadiku mendengarnya. Pilu. Sepi. Hari pertama dalam sejarahku merasakan kehilangan orang yang di cintai.

Aktivitasnya setiap selesai mengimami shalat subuh langsung stand by di lapau kopi tepi jalan Medan-Padang. Dikala pulang ke rumah sekitar jam 9 pagi, berserulah ia, “Ucok godang-ucok godang (panggilang untuk anak tertua dalam adat Mandailing), sini ada gorengan sedikit ni,”sambil meletakkan jas kemeja hijaunya di samping lemari putih-yang konon kata Ayah dibeli di Padang tahun 80an-. Tak lama kemudian, radio tua tahun 50an itu pun di putar untuk mendengarkan RRI, khabar dari negeri Seberang (Malaysia dan Singapura) terdengar secara jelas. Sebelum zaman ini yang kebanyakan radio lebih cenderung pada komersialisasi. Ajaran-ajaran sekulerisme yang begitu kental.

Beliau mungkin sangat marah-siapapaun juga pasti marah besar-ketika mendengar bahwa hari ini kampung yang diperjuangkannya bersama teman-teman seperjuangannya telah menjadi salah satu kampung yang termasuk dalam kawasan “kampung nita “hutan lindung. Tanah harapan bagi keluarganya setelah pindah dari kampung sebelah disebabkan pengkhianatan seorang sahabat dalam sistem kekuasaan kampung. Hutan lindung itu telah menjarah dan meresahkan hak hidup anak-anak dan cucunya. Mungkin kalau beliau melihat SK Mentri Kehutanan No.44 Tahun 2005, pasti termenung sambil berkata”, apa maksud semua ini? Apakah kami memang bukan manusia, sehingga patut di jadikan hutan lindung rumah dan tanah ini? Padahal hutan lindung didefenisikan sebagai kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan Apakah ini sikap politisasi pemerintah daerah untuk pembebasan lahan dalam menjadikan bandara di Mandailing ini? Atau memang ini sudah takdir Ilahi…?

111
Dulu Belanda yang menjajah dan merampas hak kita,
Sekarang kawan se tano Mandiling Godang yang merenggut “nyawa” kita sendiri
Orang luar juga ikut-ikutan “menjarah” kita di otonomi daerah ini….

Semuanya akan tetap berlalu, pasti ada perubahan, sambil berkomitmen untuk tetap berdiri di depan makam Abdul Cholid Nasution, minimal sekali setahun.Wallahua’lam bhissawab…

MISTERI DI BALIK BANJIR BANDANG MUARA BATANG GADIS

Terkejut. Begitulah nadiku bergetar saat mendengarkan khabar dari Negeri Seberang, seorang Ompung bermarga Nasution menanyakan kebenaran peristiwa banjir di Natal. “Mir, apa gerangan yang terjadi di Mandailing Natal. Saya lihat di tv ada berita banjir, bener gak tu, ujar beliau. Spontan saya menjawab, “Yang saya tahu bahwa banjir terjadi pada Agsutus kemarin yang memporak-porandakan beberapa rumah. Nanti kalau dapat berita yang lengkap, saya sms Ompung lagi. “ Iya, email kan aja nanti ya?, kata Ompung.

Ternyata benar setelah dihubungi seorang wartawan di Madina bahwa memang benar terjadi banjir di Muara Batang Gadis pagi dini hari tersebut. Dari informasi yang diberitahukan bahwa ada sekitar 30 rumah yang hanyut, bisa kemungkinan menjadi 40 atau 50 rumah yang memang benar-benar hanyut “di makan air”. Lenyap sudah harapan warga untuk memperoleh kemenangan di hari nan Fitri, pikirku.

Nadiku juga begitu risau tatkala ku terlambat tahu apa yang di bicarakan Ompung di negeri Seberang yang lebih dulu tahu apa yang terjadi di kampong sendiri. Sungguh luar biasa, menurut pandanganku, rasa cintanya pada Mandailing Godang. I LOVE U FULL Madina, mungkin itu yang ada dalam benak Ompung.

Setelah saya dalami ternyata sudah menjadi berita nasional, dimana INILAH.com merilis (15/09) bahwa Banjir bandang melanda 6 desa di Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. 25 Warga dilaporkan hilang dan tewas dalam musibah yang menerjang saat dinihari.

Apa sebenarnya penyebab banjir banding ini, tanyaku pada seorang wartawan yang ada di Panyabungan tadi sore. “Di duga kuat karena praktek Illegal Loging yang di “laksanakan secara diam-diam” oleh seorang pengusaha ternama di Natal, juga di indikasikan ada sangkut pautnya dengan buronan polisi Adelin Lis yang hilang bagai di telan bumi. Sepi tiada khabar dari sang buronan. Inilah salah satu misteri yang harus kita jawab.

Tentu, kita sepakat bahwa ini adalah proses kehidupan. Sebuah proses. Sebagaimana dalam sebuah milis “tetangga” menyebutkan bahwa kehidupan adalah pengulangan peristiwa dengan pemain dan tempat yang berbeda. Lebih lanjut, pertanyaannya, apakah perisitiwa ini menyadarkan kita untuk berbenah atau menganggap bahwa peristiwa yang kita temui merupakan kebetulan, tanpa ada campur tangan Sang Pencipta. Wallahu a’lam bhissawab.

SISI LAIN IMA MADINA

Basyral Hamidi Harahap dalam buku Madina yang Madani mengungkapkan bahwa kelahiran Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal (IMA MADINA) berawal dari kesadaran bahwa mahasiswa adalah calon pemimpin. Golongan intelektual ini berperan sebagai pendorong demokratisasi seluruh lapisan masyarakat untuk meraih kemajuan. Di bentuk pada tahun 1999 oleh para mahasiswa yang berasal dari daerah Mandailing Natal. Perkembangan organisasi ini mengalami kendala-hari ini pun kebanyakan ormada lain seperti itu-, disebabkan kesibukan pengurus dan anggotanya dalam studi mereka. Namun, pada tanggal 12 Agustus 2002 sejumlah aktivis mahasiswa yang berasal Madina sepakat untuk membentuk IMA MADINA kembali. Kala itu, IMA MADINA mempunyai visi; membina mahasiswa Mandailing Natal untuk lebih kreatif, inovatif, dan kompetitif serta berpartisipasi dalam pembangunan daerah Mandailing Natal. Irwan Hamdani Daulay, selaku Ketua Umum IMA MADINA pada saat itu berkomitmen untuk membuka cabang di seluruh Indonesia, meningkatkan pengabdian masyarakat, menggalang kemitraan dengan Pemda Madina, pengusaha, tokoh masyarakat dan elemen masyarakat lainnya.
Saya akui, pada awalnya tidak berminat masuk IMA MADINA (baca-IMA MADINA Padang) sebab saat itu kebanyakan kegiatannya pada kala itu hanya berkutat pada kumpul-kumpul, ada yang punya misi cari pacar, ada juga yang hanya untuk ikut-ikutan. Hati saya baru terketuk ketika jumpa dengan teman-teman KAMMI Sumbar yang juga kala itu sedang mengurus sebuah organisasi kedaerahan di Pariaman. Program yang mereka tawarkan adalah kerja sama tabloid dengan pemda setempat. Dalam tabloid itu ada seruan untuk pemberantasan narkoba. Seketika itu saya berfikir, kenapa tidak saya usulkan kepada pengurus IMA MADINA Padang untuk membuat hal yang sama. Sebab di lingkungan Remaja Masjid Kota Padang dan BEM IAIN Padang, saya bersama teman-teman sudah beberapa kali menerbitkan bulletin dan tabloid dalam lingkup Kota Padang. Usulan tersebut direspon positif oleh Ketua IMA MADINA Padang kala itu Fadlan Rizki Pulungan.

Demi kejujuran, kita wajib melihat IMA MADINA apa adanya. Irwan Hamdani Daulay dan para senior lainnya telah membesarkan IMA MADINA. Namun, hari ini IMA MADINA (khususnya peran pengurus DPP IMA MADINA) seakan telah kehilangan tongkat sebagai lembaga yang berfungsi membina mahasiswa Mandailing Natal untuk lebih kreatif, inovatif, dan kompetitif serta berpartisipasi dalam pembangunan daerah Mandailing Natal. Rasa kebersamaan dan kekompakan menjadi batu sandung yang tidak mudah di minimalisir. Saya melihat, politisasi terhadap mahasiswa yang sering terjadi bukan pada tataran pembinaan generasi yang lebih berkualitas. Setiap kali saya menjalin komunikasi dengan Ketua Umum DPP IMA MADINA, selalu saja kebanyakan berbicara untuk suksesi tahun 2010. Apa tidak ada topik yang lain seperti meminta pertanggung jawaban para pengusaha kayu di Madina dalam kasus banjir banding di Madina. Inikan jelas-jelas mengingkari posisi mahasiswa tersebut, apalagi visi IMA MADINA.
Saya juga tidak tahu kenapa. Dan ada apa dengan DPP IMA MADINA. Ketika kita mengkomunikasikan bantuan bencana yang di galang DPP IMA MADINA untuk masyarakat Kota Padang,khususnya untuk masyarakat dan mahasiswa yang berasal dari Madina, tidak ada kelanjutan komunikasi yang riil antara DPP dan Pengurus Cabang Padang. DPP IMA MADINA seolah menganggap “anak terbuang” mahasiswa Madina yang ada di Padang dengan mengantarkan bantuan tersebut dengan tidak ada komunkasi dengan pengurus cabang Padang. Hari inipun, sudah 3 hari kita menunggu balasan sms DPP IMA MADINA tentang bagaimana mengatasi secara bersama dimana ada sekitar 50 orang mahasiswa Madina yang berada di Padang, belum jelas status kosnya akibat gempa Sumbar. Kita tidak ingin menghadiahkan “korek kuping raksasa” bagi DPP IMA MADINA, sebagaimana yang dilakukan ICW bagi DPR akhir-akhir ini. Kita hanya berharap ke depan, ada perubahan yang lebih baik. Moga Allah mridhai. Wallahu a’lam bhissawab.